Supporter PSM Beri dukungan dari atas Pohon

Posted 11/27/2009 by arema-malang
Categories: The Macz Man

Tags:

Supporter – SUASANA Stadion Mattonging A Mattalatta ketika PSM menjamu Persija, Rabu (25/11) sore, tidak seramai biasanya.Stadion hanya diisi panitia pertandingan, perangkat pertandingan, petugas keamanan, dan wartawan. Pasalnya, laga ini tanpa penonton, sesuai hukuman Komdis PSSI.
Tapi, ada-ada saja cara suporter untuk memberi dukungan moril kepada Syamsul Haeruddin dkk, tanpa perlu hadir di stadion.
Beberapa suporter berbekal mikrofon mendukung PSM dari atas pohon yang letaknya jauh di luar area stadion.
Meski hanya mendukung dari jauh, mereka tetap bersemangat. Lagu-lagu khas The Maczman terdengar dari mikrofon yang mereka bawa.
Mereka dipimpin oleh Coklat, dirigen kelompok suporter kreatif Makassar, The Maczman. Mereka tidak peduli risiko jatuh.
“Ini bentuk loyalitas dan kecintaan kami kepada PSM. Di manapun mereka bertanding dan  bagaimanpun keadaan mereka, kami selalu memberikan dukungan,” ujarnya.

Karena kesalahan wartawan, RD Shock

Posted 11/26/2009 by arema-malang
Categories: Singa Mania

Tags:

Supporter – Shock dan guratan sedih sempat terlihat jelas di wajah Pelatih Sriwijaya FC (SFC) Rahmad Darmawan, ketika dikabari wartawan salah satu televisi nasional bahwa yang terpilih mewakili Indonesia di ajang Liga Champions Asia (LCA) 2010 adalah Persiwa Wamena.

Rahmad, di hadapan sejumlah wartawan, di Palembang, Rabu, tampak seperti terpukul dan benar-benar kaget mendapatkan kabar dari wartawan bahwa tim besutannya tidak mendapatkan tiket berlaga di LCA, mengikuti jejak Persipura Jayapura yang notabene juara Liga Super 2009-2010.

Dia pun seperti tidak konsentrasi lagi untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh sejumlah wartawan yang sengaja mewawancarainya di lobi Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Rabu (25/11) sore, perihal kesiapan SFC menghadapi Persiwa Wamena, 29 November 2009.

“Waduh saya belum tahu berita itu. Kecewa sekali dan shock mendengarnya,” kata Rahmad yang akrab disapa “RD” ini pula.

Namun ternyata kabar buruk yang mengagetkan dan dibawa salah satu wartawan itu tidak benar dan langsung diklarifikasi.

Kenyataannya SFC yang dijuluki Laskar Wong Kito masih diberikan kesempatan berlaga di LCA melalui babak playoff bersama tujuh tim lagi di Asia, untuk memperebutkan dua tiket.

Raut muka sedih di wajah “RD” itu pun seketika langsung berubah sumringah. Pelatih asal Metro, Lampung yang pernah mendapat predikat pelatih terbaik ini lantas terlihat bersemangat kembali menjawab pertanyaan para wartawan.

“Tahun ini kami jauh lebih siap dibandingkan tahun lalu. Saya pun sengaja merekrut pemain timnas, tak lain karena memang mempersiapkan tim berlaga di level Asia. Itulah kenapa saya sempat shock mendengar kabar tim SFC ini tidak jadi ke LCA,” kata RD pula.

Dia menambahkan, beberapa pemain lama juga sengaja dipertahankannya, karena telah memiliki pengalaman bermain di level Asia seperti musim lalu.

“Berlaga di ajang LCA adalah hal yang berbeda buat saya, ada tantangan sendiri dan semangat di sana. Jadi wajar jika berita tadi sempat membuat saya shock. Malahan jika benar itu terjadi artinya saya harus berpikir bagaimana memotivasi diri untuk tetap semangat,” kata RD, sambil menarik napas panjang setelah mengetahui kabar yang sebenarnya.

Artinya SFC tetap berpeluang tampil di ajang LCA, untuk membuktikan kemampuan tim asal Sumatra Selatan (Sumsel) ini bisa mencapai hasil lebih baik dari yang pernah diperoleh di level sepak bola Asia. (ant/row)

Sepak Bola Nyaris Ala PSSI

Posted 11/24/2009 by arema-malang
Categories: Tribun

Tags: , ,

Supporter – Kualifikasi Piala Asia U-19 usai sudah. Tim nasional Indonesia yang sepenuhnya diisi para pemain yang berlatih di Uruguay selama dua tahun hanya bisa menempati peringkat ketiga dan gagal lolos ke putaran final. Tak lama sesudah itu, tim nasional senior gagal menaklukkan Kuwait di kandang sendiri. Ini kegagalan bernilai ganda: selain peluang lolos ke Piala Asia nyaris tertutup, kegagalan ini juga diimbuhi permainan buruk dan sarat tackling-tackling kasar yang kadang memalukan.

Reaksi terhadap dua kegagalan tim nasional itu beragam. Untuk tim nasional senior, umumnya publik merasa itu sebagai sesuatu yang wajar. Permainan yang minim kreativitas, stamina yang tak ajeg, dan emosi yang tak terkendali menjadi faktor minus yang banyak membuat sebal. Berkali-kali pemain Indonesia melakukan tackling yang bukan hanya kasar, tapi juga tak penting. Menggemaskan, memang, menyaksikan pemain sekelas Ismed Sofyan atau Ponaryo Astaman melakukan tackling kasar di areal yang justru tak berbahaya.

Puncaknya adalah saat Ismed menerima kartu kuning kedua di menit-menit awal babak kedua. Sungguh tackling tidak penting. Tapi publik yang cukup sering mengikuti tim nasional pasti tak merasa aneh dengan ulah “urakan” Ismed. Pada 12 Oktober 2004, saat menghadapi Arab Saudi di laga Pra Piala Dunia 2006, Ismed juga diganjar kartu merah, yang membuat Indonesia kalah 1-3. Pada laga Piala Asia 2007, juga saat melawan Arab Saudi, Ismed lagi-lagi melakukan pelanggaran tak penting hanya beberapa saat setelah ia masuk sebagai pemain pengganti. Hasilnya: Indonesia harus kebobolan gara-gara tendangan bebas itu.

Simaklah bagaimana Ismed, salah satu pemain paling senior di tim nasional, merefleksikan pelanggaran yang dibuatnya pada Piala Asia itu. Pada 28 November 2008, menjelang Piala AFF, kepada sebuah situs berita Ismed mengucapkan kalimat ini: “Yang saya lakukan di Piala Asia sebenarnya tidak terlalu fatal.”

Lihatlah bagaimana seorang Ismed bahkan tak tahu betapa fatalnya pelanggaran yang pernah dia lakukan. Jika pelanggaran seperti itu pun dengan mudahnya dianggap enteng, tak perlu diherankan juga jika Ismed (lagi-lagi) melakukan kesalahan fatal yang merugikan tim.

Ismed, bagi saya, adalah cermin paling sempurna dari ketidakmampuan manajemen sepakbola Indonesia belajar dari masa lalu dan dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibikin. Di situ, Ismed adalah simbol paling kontemporer betapa sepakbola Indonesia memang mengidap rabun dekat dan rabun jauh sekaligus: kesalahan terbaru dan kesalahan yang sudah jauh sama-sama tak pernah diingat dan digunakan sebagai bahan introspeksi.

Di level itu pulalah, barangkali, penyikapan terhadap tim nasional U-19, yang juga gagal lolos ke Piala Asia U-19, sebaiknya diposisikan.

Berbeda dengan penyikapan terhadap kegagalan tim nasional senior saat menghadapi Kuwait, Syamsir Alam, dkk., dianggap oleh banyak kalangan sudah memberi penampilan yang tidak mengecewakan.

Kekalahan telak oleh Jepang dan kekalahan tipis oleh Singapura tampaknya agak “dilupakan” berkat kemenangan atas Taiwan dan Hong Kong serta hasil seri saat berhadapan dengan tim kuat Australia. Penampilan elegan Syamsir Alam, kelincahan Alan Martha, kecepatan Abdul Rahman Lestaluhu, atau dribling Yericho Kristiantoko dianggap cukup menjanjikan.

Saya bisa memahami komentar-komentar positif macam itu, terlebih melihat permainan tim abal-abal tim nasional senior, atau performa tim nasional U-23 yang dipersiapkan menghadapi SEA Games di Laos pekan lalu juga kalah dari Malaysia dalam laga uji coba yang keras dan ricuh.

Tiga penampilan terakhir Syamsir Alam, dkk., dirasa sebagai sehembus angin segar di tengah berita-berita tak enak mengenai penampilan tim nasional senior. Harapan, tentu saja, amat penting. Tapi, saya khawatir, kita terlalu permisif dan longar dalam menyikapi perkembangan sepakbola Indonesia.

Dari masa ke masa, kita terlalu mudah berharap, terlalu gampang berbangga hati. Masih saja beredar “kebanggaan kecil” bisa menahan Uni Soviet 0-0 di laga pertama Olimpiade 1956, padahal di laga berikutnya Indonesia keok 0-4. Juga pretasi menahan seri Korea Utara pada final grup II Asia di Senayan pada Pra-Olimpade 1976 kendati kemudian kalah di adu penalti.

Masih jelas juga ingatan bagaimana kita dengan mudah berbesar hati saat tim nasional U-19 yang berlatih di Italia (PSSI Primavera) “hanya” kalah 1-2 dan 0-1 oleh Korea Selatan pada ajang pra-Olimpiade 1996. Mengalahkan Bahrain dan hanya kalah tipis dari Korea Selatan dan Arab Saudi pada Piala Asia 2007 silam pun sudah membanggakan, padahal Indonesia gagal lolos ke putaran berikutnya dengan status sebagai tuan rumah.

Memang betul, Korea Selatan, Jepang atau Australia levelnya masih ada di atas Indonesia. Tak salah juga menyebut Syamsir Alam, dkk., masih punya masa depan, seperti halnya publik juga dulu pernah berkata demikian pada pemain tim nasional “Primavera” macam Kurniawan, Bima Sakti, Aples Tecuari sampai Kurnia Sandi.

Media massa juga kadang ikut-ikutan latah. Kurniawan “cuma” bermain di Lucerne B saja sudah diliput besar-besaran. Kurnia Sandi “hanya” berlatih di Sampdoria pun ditulis banyak, sampai-sampai pernah sebuah tabloid olahraga terbesar di Indonesia merasa perlu meliput momen di mana Kurnia Sandi kemungkinan –baru kemungkinan– masuk ke daftar pemain cadangan Sampdoria gara-gara kiper kedua dan ketiga Sampdoria didera cedera.

Yang terbaru, komentator televisi saat laga terakhir Syamsir Alam, dkk., berkali-kali mengutip ucapan pelatih tim nasional U-19 dari Uruguay, Cesar Paylovich, yang mengabarkan beberapa klub Uruguay tertarik dengan bakat Yericho yang katanya mirip Roberto Carlos. Dimirip-miripkan ini juga kelatahan yang dulu amat sering diucapkan presenter siaran langsung Liga Indonesia atau Tim Nasional. Firmansyah disebut sebagai “Rio Ferdinand-nya Indonesia” atau Elli Aiboy pernah saya dengar dari komentator televisi sebagai “Thiery Henry-nya Indonesia”.

Saya tidak sedang mengabaikan apa yang disebut sebagai “proses” dan serta merta menuntut hasil gemilang secara instan. Justru karena mementingkan proses itulah maka berharap datangnya prestasi secara instan dengan mengirimkan anak-anak muda berbakat untuk berlaga di kompetisi yunior di luar negeri harus terus menerus dikritisi.

Sejak era kepemimpinan Ali Sadikin, Kardono, Azwar Anas hingga sekarang dipimpin “bos besar” Nurdin Halid, PSSI tak pernah bosan mengirimkan tim nasional untuk berlatih di luar negeri. Dari mulai PSSI Garuda, Pratama, Binatama, Primavera, Baretti sampai yang terakhir PSSI SAD di Uruguay. Semua proyek itu hasilnya sama: serba nyaris.

Terus berbesar dan berbangga hati karena deretan prestasi yang hanya serba “nyaris”: nyaris lolos ke Olimpiade, nyaris menang atas Australia atau Korea Selatan dll membuat PSSI kehilangan momentum untuk menyadari kesalahan dan kegagalan.

Saya sangat menghormati perjuangan Syamsir Alam atau Alan Martha, seperti juga saya menghormati kerja keras Bima Sakti, Aples Tecuari atau Kurniawan Dwi Julianto yang bisa mengimbangi dan (hanya) kalah tipis dari Korea Selatan pada 1994. Justru karena kita menghormati jerih payah merekalah kita selayaknya tidak terlalu berharap, berbesar hati atau berbangga hati.

Carut marut dan beban sejarah sepakbola Indonesia terlampau berat untuk dipikul oleh remaja-remaja berbakat seperti mereka. Kadang, saya merasa, “kita” terlalu memberi beban yang tak semestinya pada tulang mereka yang masih ringkih itu.

Oya, kata “kita” di atas sebaiknya diganti dengan kata PSSI. Boleh kok diucapkan dengan keras-keras. Itu malah dianjurkan, kendati saya tak yakin teriakan keras dengan toa sekali pun masih bisa didengar “bos besar” Nurdin Halid, yang pada 17 November kemarin merayakan ulang tahunnya yang ke-51.

Penampilan tim nasional senior menghadapi Kuwait adalah kado  yang mau tak mau harus diterima oleh Nurdin. Entahlah apa itu kado yang manis atau pahit. Mungkin Nurdin juga tak bisa membedakan, toh ia juga tak tahu bedanya kegagalan dan keberhasilan.

————————–

Tulisan ini pertama kali tayang DI SINI

[melkisedek bola]

Review Awal Liga Super Indonesia

Posted 11/24/2009 by arema-malang
Categories: Editorial

Tags: , ,

islSupporter – Liga Super Indonesia musim 2009/10 belum genap berjalan dua bulan. Artinya kalau mau melihat apakah ada perubahan positif tentu belum siginifikan. Saya terus terang nyaris tak pernah lagi menyaksikan sepakbola nasional di tv. Sekadar tips dari saya, melihat sepakbola Indonesia cuma enak dari stadion. Bisa merasakan atmosfir berbeda.

Tapi saya selalu mengamati dengan ketat LSI melalui berita. Untuk musim ini, ada beberapa catatan awal yang saya temukan.

1. Klub

Ada kesan setengah-setengah; ya profesional, ya amatir. Beberapa tim sangat serius untuk menjadi profesional, tapi masih menggantungkan harapan pada APBD dan memiliki pengurus berplat merah. Saya tahu sulitnya mencari dana operasional untuk sebuah klub, termasuk dari sponsor. Handycap-nya masih terlalu besar. Mulai dari ketidakmampuan membuat proposal yang pantas, sampai keengganan banyak perusahaan untuk mengeluarkan dana bagi aktivitas di bawah PSSI.

Klub juga belum berubah dalam menyikapi esensi sebuah kompetisi. Saya maklum karena peserta liga kebanyakan tim perserikatan, bukan klub murni. Pendekatan untuk membangun tim ala tarkam masih kentara. Lihat apa yang dilakukan oleh Persisam Samarinda. Klub juga tak mau mengandalkan pembinaan pemain muda yang bisa jadi investasi untuk masa depan. Tapi apa yang dibuat klub tak terlepas dari kebijakan Badan Liga Indonesia yang tak punya perencanaan kompetisi. Tahun ini ada kompetisi, apakah tahun depan berlanjut? Dan kapan dimulainya?

Sebagai catatan, liga-liga yang sudah mapan selalu punya jadwal kompetisi minimal untuk tiga tahun ke depan. Ini bagus untuk perencanaan keuangan, sasaran dan skuad klub di seluruh negeri.

2. Jadwal

Saya tak habis pikir mengapa BLI kelihatan sulit membuat jadwal yang serempak atau teratur konfigurasinya. Nyaris seluruh liga di dunia selalu dimainkan di hari Sabtu dan Minggu. Sebagian ada pula hari Jumat atau Senin. Ada pula konfigurasi tengah minggu, tetapi jumlah paketnya tak pernah lebih dari 4-5 minggu. Tapi di LSI, partai tengah minggu berjalan penuh dari awal hingga akhir musim.

Sebagai contoh, saya sertakan konfigurasi Bundesliga Jerman yang selalu sama setiap musimnya. Jumat malam (jam tujuh atau delapan waktu setempat) ada satu partai. Sabtu (biasanya serentak di sore hari atau paling malam jam 7) ada lima partai. Minggu dengan jam sama seperti hari Sabtu ada dua partai.

Bermain serempak dalam sepekan bagus untuk keadilan peserta. Bermain dengan konfigurasi per pekan, bukan dalam asumsi tiga hari sekali, bagus untuk pemulihan fisik pemain dan wasit. Lagi pula, memainkan partai tengah minggu tak baik untuk lingkungan kota karena Rabu atau Kamis adalah hari kerja. Jika harus dimainkan di tengah minggu, sebaiknya malam hari (after hours). Lagi pula, jadwal tengah minggu bisa dipakai untuk jadwal kompetisi sejenis Copa Indonesia atau regional seperti Liga Champions Asia.

Konon LSI tak memungkinkan jadwal di akhir pekan melulu karena mengantisipasi bengkaknya dana tim yang menjadi tamu. Konfigurasi jadwal tandang di LSI adalah dua kali beruntun di propinsi atau pulau yang sama. Klub tamu keberatan jika harus bermain seminggu sekali karena biaya operasional (akomodasi dan konsumsi) membengkak. Saya maklum, ini memang sulit. Tapi dalam kompetisi pro, semua peserta dianggap mampu, baik tim kecil maupun besar. Harus tega dan tegas!

3. Stadion

Lapangan masih sangat buruk. Tak jauh berbeda dengan lapangan tarkam. Perhatikan lapangan di Wamena, Malang, Lamongan, atau Makassar. Tapi ini jelas bukan salah klub semata. 99 persen stadion di Indonesia adalah milik pemda yang dibangun untuk menjaring massa dalam pilkada dan bahkan ada pula yang warisan Belanda. Klub hanya tenant.

Anehnya, klub juga milik pemda. Entah mengapa dana lebih banyak tersedot untuk membayar pemain asing dengan gaji mentereng (dan pakai uang APBD), ketimbang meningkatkan kualitas lapangan.

Saya juga menyayangkan kebijakan BLI yang membagikan satu mini van untuk seluruh klub mulai musim ini. Tak ada kebijakan (subsidi) seperti ini di kompetisi pro manapun. Akan lebih berarti bila alokasi dana mobil diarahkan kepada perbaikan stadion.

4. Wasit

Saya harus bilang 50-50; ada kesan membaik tetapi masih ada pula yang tak berubah. Kualitas wasit Indonesia jelas sangat minim. Tak kelihatan pendekatan persuasifnya. Tak jelas pula standar kinerjanya.

Wasit salah satu kebobrokan sepakbola nasional. Pembelian wasit adalah praktek sangat umum di sini. Bukti memang sulit diperoleh, tapi baunya sangat tajam. Persis seperti kasus korupsi.

Kinerja wasit membaik (semoga begitu) bila dilihat sudah ada beberapa tim tamu mampu meraih minimal satu poin di kandang lawan. PSPS Pekanbaru bisa seri di Malang. Arema justru bisa dua kali menang di Kalimantan.

Tapi ada pula yang tak berubah. Bontang FC jelas merugi karena kalah 0-1 dari tuan rumah Persijap Jepara. Padahal Bontang sempat mencetak gol sah, tapi dianulir wasit.

6. Pengelola Liga/BLI

Saya harus sedikit memberi kredit pada Badan Liga Indonesia (BLI). Ada kesan mereka ingin kompetisi menjadi wadah industri yang profesional. Semestinya, bila PSSI tak banyak ikut campur — termasuk dengan alasan prerogatif ketua umumnya — kompetisi pasti membaik. Djoko Driyono sebagai direktur kelihatan sekali ingin SLI menjadi profesional dan memanfaatkan potensinya menjadi sebuah industri. Namun dia seorang menjadi tak berdaya guna.

Tapi sosok Djoko masih punya kekurangan. Dia masih sering tampil di muka umum. Sebagai CEO, dia tak seharusnya selalu muncul dalam jumpa pers. Itu jarang dilakukan oleh bos liga di banyak negara, apalagi yang sudah mapan semacam Liga Premier Inggris. BLI memang masih seumur jagung. Masih banyak pekerjaan rumahnya.

Misalnya, tidak mendominasi papan iklan di dalam stadion. Jatah iklan di stadion harusnya diserahkan kepada klub, karena di situlah salah satu pemasukan mereka. Mempertegas penerapan aturan. Membuat jadwal yang komprehensif dengan segala konsekuensinya. Terakhir, jangan terlalu sering melakukan tindakan permisif terhadap hal yang terkait dengan klub peserta.

Saya selalu berharap kompetisi tertinggi Indonesia ini semakin baik. Jika LSI bisa baik dan benar, maka akan mudah untuk membuat landasan kompetisi nasional yang berbentuk kerucut. Kompetisi yang bagus adalah sarana untuk memiliki tim nasional yang bagus. Tanpa itu, nonsens!

[Hedi Novianto]

Suktino Hanya Korban Salah Asuhan

Posted 11/24/2009 by arema-malang
Categories: NJ Mania

Tags:

islSupporter – Gelandang Persitara Jakarta Utara, Sutikno, kini menjadi pesakitan setelah menekel secara brutal bek sayap Persebaya Surabaya, Anang Maruf, hingga cedera dislokasi siku tangan.

Tak pelak semua pihak meminta Sutikno dihukum sangat berat. Bahkan Komisi Medis PSSI pun ingin pemain berusia 24 tahun itu diganjar hukuman seumur hidup akibat perbuatannya.

Apa yang dilakukan Sutikno pekan lalu memang tak bisa dibenarkan dalam panggung sportifitas olahraga. Kadarnya hanya berbeda tipis dengan tindakan pemain Persela Lamongan Denny Tarkas yang melabrak gelandang Bontang FC Jumadi Abdi hingga menimbulkan kematian tahun lalu.

Tapi tindakan Suktikno dan Tarkas juga dilakukan oleh mayoritas pemain di Liga Super Indonesia atau divisi-divisi bawahnya. Di Indonesia tak ada istilah permainan keras. Yang biasa terjadi pada prakteknya adalah permainan kasar.

Tim nasional Thailand bahkan pernah menyebut pemain Indonesia bukan bermain sepakbola, tetapi olahraga rugby yang mana menabrakkan diri sekerasnya ke tubuh lawan dihalalkan. Contoh terbaru pun memperlihatkan bagaimana tim U-23 Indonesia, yang sedang dipersiapkan tampil di SEA Games Laos 2009, juga bermain kasar saat sedang berujicoba dengan tim Malaysia di Palembang tengah pekan lalu.

Ada kesan para pemain Indonesia belum mengerti batasan keras dan kasar. Eks pelatih timnas Peter Withe pernah mengeluhkan bagaimana mudahnya pemain Indonesia menerima kartu kuning di laga internasional. Pemain Indonesia terbiasa mengawal lawan dan mengambil bola dengan tindakan berlebihan, misalnya menabrakkan tubuhnya, tanpa memikirkan kemungkinan apakah bola bisa dikuasai atau tidak.

Itu semua karena kebiasaan bermain. Sebuah perilaku yang sayangnya tidak baik dan tidak juga benar. Pemain tak bisa disalahkan sepenuhnya. Mereka punya pelatih dan juga ada wasit di lapangan yang (seharusnya) berhak melakukan pembinaan.

Wasit di kompetisi Indonesia tak pernah melakukan tindakan persuasif seperti yang biasa dilakukan wasit di Liga Premier. Wasit jarang kelihatan memberi petunjuk atau nasehat kepada pemain yang melakukan pelanggaran, termasuk pelanggaran yang tak terlalu keras sekalipun. Belum pernah terlihat pula wasit Indonesia menerapkan kebijakan 10-20 menit yang sering diagung-agungkan FIFA. Apa itu kebijakan 10-20 menit?

Ini adalah kebijakan dalam menerapkan keputusan keras (strict). Wasit akan langsung memberi kartu kuning ketika ada pelanggaran keras di 10 menit pertama. Ini adalah tindakan shock therapy sehingga pemain lain tak akan melakukan hal serupa. Berikutnya wasit akan menurunkan tensi policy-nya selama 20 menit. Tetapi bila setelah itu ada permainan keras lagi maka kebijakan keras selama 10 menit kembali berlaku. Begitu seterusnya.

Seperti juga halnya skill, maka mental bermain kasar adalah tugas pelatih untuk membenahi dan membinanya. Pelatih Inggris Fabio Capello pernah mengatakan bahwa seorang pelatih juga harus bertindak sebagai psikolog bagi para pemainnya. Di Indonesia, kredit besar patut dialamatkan pada pelatih Pelita Jaya, Fandi Ahmad, yang melarang pemainnya melakukan permainan kasar. Dia juga mengajari bagaimana cara bermain keras, bukan kasar. Ironisnya, dia orang Singapura. Kemana pelatih Indonesia?

Apa yang dilakukan Sutikno dan Tarkas seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak; pemain, pelatih, wasit, pembina klub dan sepakbola Indonesia. Semua saling terkait. Menghukum Sutikno seumur hidup juga tidak beralasan. Belum pernah ada pemain dihukum selama itu, di manapun, kecuali dia terlibat narkoba atau doping seperti halnya Adrian Mutu saat memperkuat Chelsea.

Bek Birmingham City Martin Taylor pun akhirnya hanya dihukum sebulan oleh FA seusai mematahkan kaki dan engkel striker Arsenal Eduardo da Silva pada tahun 2008. FA menolak usulan FIFA agar Taylor dilarang main seumur hidup.

Dalam kasus Sutikno, hukuman yang paling adil mungkin adalah selama Anang tak bisa bermain. Mungkin dua-tiga bulan sudah cukup. Yang diperlukan adalah efek jera, bukan masalah durasi. Bukan hanya bagi Sutikno pribadi, tapi juga pemain lain. Lagi pula, sekarang Sutikno pasti mengalami depresi seperti halnya Taylor dulu. Dan yang paling penting, hukuman yang sudah dikeluarkan jangan lagi dianulir — meski dengan embel-embel hak prerogatif Ketua Umum PSSI.

[Hedi Novianto]

Kritis tapi Bukan Mendiskreditkan

Posted 11/24/2009 by arema-malang
Categories: Editorial, news

Tags: ,

kritisSupporter – Sering kali saya dituduh terlalu senang menjelekkan sepakbola nasional. Saya dianggap pesimistis dan tak mendukung. Terus terang saya menjadi sedih.

Jika ada orang bertanya soal sepakbola Indonesia, jawaban saya selalu tiga kata: (di)ruwet(kan) dan menggemaskan.

Ruwet karena saya tahu persis bagaimana sepakbola nasional diurus. Saya bisa mencium praktek kasar di kantor pengurus sampai bagaimana wasit-wasit kita “bermain” atau “dimainkan”. Tentu saja sulit untuk dibuktikan, walau praktek-praktek itu saya ketahui dari sumber yang melakukannya sendiri atau terpercaya. Jadi apa yang saya tulis selalu berangkat dari sana.

Saya justru kasihan pada suporter di sini. Mereka selalu antusias mengikuti perkembangan, tapi tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka yakin klubnya akan juara, tapi mereka tak tahu bahwa untuk juara ada “harganya”. Bahkan untuk degradasi pun demikian. Nyaris seperti bisnis para mafia yang hanky panky.

Lalu kenapa media massa nggak berusaha membuka borok-borok itu? Pertanyaan ini sering banget saya dengar. Percuma media massa menulis sampai jari kaku. Karena pada ujungnya hanya organisasi PSSI sendiri yang bisa menyelesaikan. Tidak boleh ada campur tangan pemerintah karena bertentangan dengan statuta FIFA. Satu hal yang bisa dilakukan oleh media cuma satu, minimalisir berita nasional, jika tak mau dibilang memboikot. Harian Kompas salah satu media yang paling jarang menulis sepakbola nasional.

Apa yang mau ditulis jika isinya lebih banyak ribut-ribut terus. Masih bagus jika pembaca nggak lari, bagaimana jika tak ada pengiklan. Lebih repot. Lagi pula, ada beberapa wartawan yang juga mendapat ke untungan dari karut marut sepakbola nasional. Menjadi “agen bayangan” adalah isu santer belakangan ini. Sulit dipercaya, memang.

Menyedihkan dan menggemaskan, bukan?

Sepakbola nasional punya potensi sangat-sangat besar! Sekali lagi, jika dalam istilah asing, gigantic and massive. Sepakbola Indonesia beruntung punya masyarakat yang doyan sepakbola. Dengan kualitas yang masih sangat rendah, stadion selalu penuh dengan suporter — lepas dari sebagian adalah bonek atau sekadar pencari keramaian saja.

Apa artinya massa yang besar ini? Iklan!!! Tim seharusnya tak akan kesulitan menjaring iklan, bahkan bila perlu pakai sistem waiting list lantaran peminatnya yang membludak. Budaya iklan di Indonesia adalah mengikuti (follower). Jika sebuah perusahaan besar menjadi sponsor sebuah tim, maka kompetitornya akan mengikuti. Begitu seterusnya. Coba lihat berapa potensi profit sebuah tim atau klub.

Pendeknya, sepakbola nasional punya daya jual sangat tinggi. Bahkan bila perlu bisa menjual hak siar ke luar negeri. Tapi masalahnya sepakbola nasional tak pernah diurus sebagaimana mestinya.

Itu sebabnya apa yang saya tulis di blog pribadi selalu dilengkapi “bagaimana yang seharusnya”. Bukan berharap pada kepengurusan sekarang. Siapa tahu dari mereka yang membaca justru akan menjadi pengurus organisasi sepakbola di masa depan. Minimal mereka punya petunjuk awal sehingga tak buta.

Setidaknya, mereka bisa tahu apa yang harus diurus jika menangani kompetisi, klub, tim nasional, turnamen. Bagaimana memberdayakan hubungan dengan pihak lain di luar tim/ klub dan masyarakat. Mereka menjadi kritis tanpa harus mendiskreditkan. Semua demi kemajuan sepakbola nasional bersama.

© image: praisechapelcafe.

[Hedi Novianto]

Antara dukungan dan Realitas

Posted 11/24/2009 by arema-malang
Categories: Editorial

Tags: ,

pialadunia_2022Supporter – Niat PSSI untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 memang perlu didukung. Nothing is impossible. Ungkapan itu bisa jadi dasarnya.

Saya sendiri (apa boleh buat) tetap mendukung. Siapa yang tak mau melihat Indonesia membaik, bukan hanya fasilitas sepakbolanya semata. Sebab Piala Dunia selalu berkonotasi well established. Sekali lagi; bak negara maju!

Penilaian FIFA terhadap kemungkinan sebuah negara menjadi tuan rumah bukan cuma aspek teknik stadion (venue), tapi justru lebih sering didasari pada kualitas kehidupan dasar. Transportasi publik, polusi (udara & suara), akomodasi, fasilitas umum dan keamanan.

Lalu bagaimana kesiapan PSSI terhadap proses bidding bulan Desember nanti?

Di sinilah pesimistis orang banyak mulai muncul. Realitanya, kita tak pernah tahu apa saja yang sudah disiapkan PSSI sebagai modal layaknya orang akan pergi ke medan laga. Tak usah kita berkaca pada Australia atau Jepang yang juga ikut serta bidding. Mereka jelas berada jauh di atas kita untuk segala urusan sementara ini.

Kita ke Qatar saja. Soal uang, tak usah ditanya karena Qatar penghasil dan pengekspor gas cair (LNG) terbesar di dunia. Tapi bagaimana mereka secara serius mempersiapkan diri untuk mengikuti proses bidding. Mulai dari urusan cuaca, alkohol (yang dilarang di Qatar) hingga venue.

Sebagai kampanye pun, Qatar sudah melakukannya. Di Doha, ibukotanya, selalu digelar laga-laga internasional. Yang terbaru, Brasil versus Inggris digelar di sana.

Artinya, untuk proses bidding, mereka sudah siap 100 persen.

Sementara PSSI, sejauh yang saya amati, baru bermodalkan dukungan dari masyarakat. Saya tak tahu apakah FIFA akan tergoda oleh PSSI yang tak jelas modal bidding-nya. Padahal bidding adalah tahap awal yang sangat penting. Tahap proposal dan presentasi. Ibarat orang membuat skripsi, ini adalah outline-nya. Setelah disetujui dosen, baru anda bisa menggarap bab demi bab.

Sampai sekarang, saya belum tahu apa isi benak PSSI soal lingkungan, keamanan, transportasi, akomodasi dan tempat latihan. Yang sudah kelihatan diseriusi PSSI barulah soal stadion, itu pun belum mencapai 100 persen. Semoga FIFA nanti sedang berbaik hati dan mencari tantangan baru dengan menunjuk Indonesia. Saya berharap begitu.

Saya tak pernah ragu pada kemampuan Indonesia untuk menyulap fasilitas dengan cepat. Saya yakin waktu 13 tahun adalah lebih dari cukup. Masalahnya adalah ketidakjelasan persiapan PSSI sendiri. Saya jadi bertanya apa arti dukungan bagi PSSI dari banyak orang.

Semoga kita bukan sedang mendukung realitas yang kosong. Mungkin saja PSSI sudah menyiapkan kejutan. Siapa tahu?

[Hedi Novianto]

Persebaya tahkluk atas Persipura di Kandang

Posted 11/23/2009 by arema-malang
Categories: Bonekmania, Papua Mania

Tags: ,

Supporter – Strategi Pelatih Persipura Jayapura, Jacksen Ferreira Tiago sukses meredam Persebaya Surabaya. Persebaya dipaksa takluk 0-1 di kandangnya, Stadion Gelora 10 Nopember, Minggu 22 November 2009.

Jacksen menginstruksikan anak asuhnya agar bermain sabar di babak kedua dalam laga lanjutan Liga Super Indonesia (ISL) 2009/2010 ini. Eduard Ivakdalam cs tak mengimbangi permainan menyerang Persebaya seperti di babak I.

Mutiara Hitam hanya sesekali melancarkan serangan balik. Tapi, mereka mampu mengontrol serta memainkan ritme.

Alhasil, keberingasan Persebaya mampu diredam. Apalagi, Green Force kali ini turun tak lengkap tanpa duet striker: Ngon A Djam dan Korinus Fingrkrew.

Babak II

Bermain kacamata 0-0 di babak I, tuan rumah Persebaya dan Persipura bermain hati-hati di awal babak kedua.

Persipura menarik Paulo Rumere dan menggantikannya dengan penyerang Tinus Pae di menit 50. Tampaknya Pelatih Jacksen Ferreira ingin skuatnya tampil lebih menyerang.

Menit 63, tendangan kaki kiri first time John Tarkpor memanfaatkan bola rebound tendangan Josh Maguire hanya menyamping di sisi kiri gawang Jendri Pitoy.

Usaha Andik Vermansyah di kotak penalti menit 64 membentur kaki Bhio Paulin dan berbuah corner. Demikian pula tendangan Supriyono seusai corner menyamping kiri gawang Pitoy. Crossing Andi Oddang di menit 65 dihalau Bio dan berbuah corner untuk Persebaya.

Sebaliknya, usaha Ortizan Solossa di menit 72 hanya lemah dan menyamping di sisi kiri gawang Persebaya yang dijaga Endra Prasetya.

Persipura secara mengejutkan mencetak gol di menit 75 lewat Bhio Paulin. Berawal dari set piece, bek Persipura ini memanfaatkan bola rebound dari badan pemain Persebaya dengan sundulan tipis.

Sempat mengenai mistar, bola meluncur tipis melewati garis gawang tanpa bisa ditepis Endra Prasetya. Meski agak kontroversial, bola memang terlihat telah melewati garis gawang dari tayangan ulang.

Persebaya menarik playmaker John Tarkpor di menit 79. Pelatih Danurwindo sepertinya melakukan perjudian dengan memasukkan Arif Ariyanto. Tapi, stamina Tarkpor tampaknya sudah habis.

Peluang emas Persebaya gagal diselesaikan Andi Oddang di menit 81. Hasil kejasama rapi ini diakhiri dengan tendangan melambung Andi.

Ian Kabes mendapatkan kartu kuning dari wasit Armando Pribadi di menit 83. Sepertinya Kabes dianggap mengulur waktu.

Percobaan kapten Persipura, Eduard Ivakdalam masih melambung di atas gawang Persebaya di menit 85.

Menit 88, gelandang Taufiq mengalami cedera dan digendong keluar rekannya. Tapi semenit kemudian, justru penyerang Andik Vermansyah yang ditarik keluar untuk digantikan Wimba Sutan.

Tambahan waktu tiga menit, dan Persebaya mendapatkan tendangan bebas tapi gagal dimanfaatkan dengan baik. Demikian pula saat para pemain tuan rumah mengurung pertahanan Persipura di menit terakhir.

Sampai peluit panjang wasit Armando Pribadi, kedudukan tak berubah 1-0 untuk Persipura. Ini jadi kemenangan perdana sang juara bertahan setelah bermain seri terus dalam tiga laga. Sebaliknya, ini kekalahan perdana Persebaya di kandang.

Persipura naik ke posisi 11 klasemen sementara ISL dengan mengemas enam poin dari empat laga. Sedangkan Persebaya berada di posisi 5 dengan mengemas 10 poin dari enam laga.

FORMASI PEMAIN
Persebaya (4-4-2):
Endra Prasetya; Satrio Syam (Irfan Hidayatulah 84′), Anderson Da Silva, Takatoshi Uchida, Nugroho Mardiyanto; Supriyono, John Tarkpor (Arif Ariyanto 79′), Josh Maguire, Taufiq; Andi Oddang, Andik Vermansyah (Wimba Sutan 89′)

Persipura (4-4-2): Yandri Pitoy; John Scarlet (Ortiza Solossa 36′), Bhio Paulin, Jack Komboy, Victor Igbonefo; Hendra Ridwan (Imanuel Wanggai 66′), Errol Iba, Eduard Ivakdalam, Paulo Rumere (Tinus Pae 50′); Ian Louis Kabes, Alberto Goncalves

[viva/supporter]

Bendol Siap di Lepas

Posted 11/20/2009 by arema-malang
Categories: Tribun

Tags: , ,

Supporter – Kontrak Benny Dollo sebagai pelatih tim nasional Indonesia akan segera habis dalam beberapa pekan ke depan. Soal perpanjang kontrak, Bendol pasrah saja pada PSSI.

Pertanyaan mengenai kontrak Bendol mengemuka pasca pertandingan Indonesia kontra Kuwait yang berakhir 1-1 di Stadion

Utama Gelora Bung Karno, Rabu (18/11/2009).

Masa kerja Bendol dalam memoles Boaz Solossa dkk memang tinggal menghitung hari. Padahal dua pertandingan kualifikasi Piala Asia 2011 yang tersisa baru akan berlangsung Januari nanti.

Teka-teki apakah Bendol akan meneruskan kerjasamanya dengan timnas atau memilih berkonsentrasi bekerja dengan Persija Jakarta –di mana ia sekarang menjabat penasihat teknis– pun menggantung.

“Kembali ke PSSI saja lah. Kalau ingin saya terus, ya terus. Kalau tidak, ya saya akan konsentrasi ke Persija. Amin,” ucap Bendol di depan para wartawan.

Bendol mulai menangani tim nasional pada tahun 2008 menggantikan Ivan Kolev. Di bawah asuhan eks pelatih Arema Malang dan Persita Tangerang itu, Indonesia belum pernah mencatat prestasi meyakinkan.

Ajang besar terakhir yang diikuti Indonesia yang diasuh Bendol adalah Piala AFF 2008. Dibebani target juara, Indonesia terhenti di semifinal akibat takluk di tangan Thailand.

“Kontrak dengan tim nasional Indonesia ini butuh pengorbanan. Masyarakat silakan saja menilai saya mendua dengan menangani timnas dan bekerja di Persija,” pasrah pria 59 tahun itu.

Gaji Pemain Arema di bayar setengah

Posted 11/20/2009 by arema-malang
Categories: aremania

Tags: ,

Supporter – Para pemain Arema Malang akhirnya bisa sedikit bernafas lega setelah manajemen membayarkan gaji mereka selama bulan Oktober meskipun hanya separuhnya atau 50 persen saja.

Pembayaran gaji yang hanya diberikan separuhnya ini terpaksa dilakukan manajemen Arema sambil menunggu pencairan tahap II dari PT Bentoel Internasional Tbk, selaku sponsor mereka.

PT Bentoel sendiri telah menjadi sponsor utama “Singo Edan” sejak tahun 2003, dimana tiap musimnya mengeluarkan dana diatas Rp. 2 Miliar.

“Para pengurus termasuk manajemen Arema terpaksa harus urunan (patungan-red) dulu untuk membayar gaji pemain. Untuk pembayaran penuh termasuk bulan November, kami menunggu pencairan tahap II dari PT Bentoel,” ujar Media Officer PT Arema Indonesia, Sudarmaji, Rabu (18/11) kemarin.

“Para pemain tak perlu resah dengan keterlambatan gaji ini. Saya harap, mereka tetap konsentrasi untuk mempersiapkan dua laga tandang nanti,” lanjutnya.

Dalam lanjutan Liga Super Indonesia nanti, “Singo Edan” akan bertandang ke markas Persitara Jakarta Utara (28/11) dan Pelita Jaya (2/12).

Tahun ini, PT Bentoel hanya memberikan dana sponsor sebesar Rp. 7,5 miliar dari kebutuhan operasional dan kontrak pemain serta gaji pemain selama satu musim kompetisi yang rata-rata sebesar Rp. 15 miliar-Rp. 20 miliar.

Sayangnya, sejak LSI bergulir, Arema tertimpa krisis yang menyebabkan mereka tak mampu membayarkan gajinya lantaran kebijakan PT Bentoel yang membuat tahapan dalam mengalirkan dananya.

Bahkan Arema meminta bantuan PT Liga Indonesia untuk dicarikan sponsor tambahan dan terobosan-terobosan lain untuk menutupi kekurangan dana tersebut. Hasilnya, mereka akan menggelar laga Rp. 1 miliar saat menjamu saudara tuanya, Persema Malang dimana tiket yang terjual akan terkumpul sejumlah itu.