Arsip

Archive for the ‘Jakmania’ Category

Awal Mula Permusuhan Jakmania dan Viking

Supporter – Perseteruan antar suporter Persija dan Persib sudah berlangsung lama, tepatnya sejak tahun 2000 yaitu bertepatan dengan Liga Indonesia 6 berlangsung. Di putaran 1 sekitar 6 buah bis suporter Persib datang ke Lebak Bulus dan masuk ke Tribun Timur. Dan terdiri dari banyak unit suporter seperti Balad Persib, Jurig, Stone Lovers, ABCD, Viking dll. Saat itu yang terbesar masih Balad Persib. Meski sempat nyaris terjadi gesekan dengan the Jakmania, tapi alhamdulilah tidak terjadi bentrokan yang lebih luas. Justru kita suporter Persib bergerak ke arah the Jakmania tuk berjabat tangan. Gw inget banget yel-yel kita waktu itu : “ABCD … Anak Bandung Cinta Damai”. Selesai pertandingan suporter Persib juga didampingi the Jakmania menuju bus. Dan The Jakmania mengikuti dengan menyanyikan lagu Halo Halo Bandung.

Penerimaan the Jakmania membuat kita (Viking) berniat tuk mengundang datang ke Bandung saat putaran 2. Dialog berlangsung lancar karena seorang Pengurus the Jakmania yang bernama Erwan rajin ke Bandung tuk bikin kaos. Hubungan Erwan dengan Ayi Beutik juga konon akrab banget sampe2 Erwan pernah cerita kalo dia suka sama adiknya Ayi Beutik. Melalui Erwan jugalah Viking menyatakan keinginannya tuk mengundang dan menyambut the Jakmania di Bandung meski kita sendiri masih khawatir dengan sikap bobotoh yang lain.

The Jakmania saat itu belum sebesar sekarang. Yang nonton di Lebak Bulus aja cuma di sisi Selatan tribun Timur. Jadi bersebelahan dengan Viking. Nah ajakan Viking itu langsung ditanggapi oleh the Jakmania yg memang sudah punya niat jg tuk melakoni partai tandang. Dibentuklah kemudian perencanaan, salah satunya dengan mengutus Sekum dan Bendahara Umum the Jakmania saat itu yaitu Sdr Faisal dan Sdr Danang. Mereka ditugaskan tuk melobi Panpel Persib dari mulai masalah tiket hingga tribun the Jakmania. Kebetulan Danang lagi kuliah di Bandung sehingga tempat kosnya jadi tempat kumpulnya the Jakers disana.

Karena The Jakmania belum berpengalaman mengkoordinasikan anggota tuk nonton tandang. Justru yang menjadi masalah justru bukan di koordinator kepada Panpel Persib tapi di anggota The Jakmania itu sendiri. Banyak anggota yang bandel daftar pada hari H nya. Jumlah yang tadinya cuma 400 orang berkembang menjadi 1000 orang lebih! Bayangin gimana repotnya Pengurus The Jakmania nyari bis tuk ngangkut segitu banyak orang. Akibatnya The Jakmania berangkat baru jam 12 siang! Itu juga terpecah menjadi 3 rombongan. Satu bis berangkat lebih dulu karena akan ganti ban. Disusul 4 bus kemudian. Dan terakhir berangkat dengan 4 bus tambahan.
Keberangkatan The Jakmania sendiri juga masih diliputi keraguan apakah dapat tiket atau tidak. Tim Advance yang diutus mendapatkan kesulitan mencari tiket. 4 hari sebelum pertandingan terjadi kerusuhan di stadion Siliwangi akibat distribusi tiket yang kurang lancar. Ada seorang Vikers yang menganjurkan the Jak tuk hadir di acara khusus pertemuan tim dengan suporternya. Faisal, Danang dan Budi ambil keputusan tuk hadir di acara itu. Disana mereka sempat bertemu Walikota Bandung, Kapolres, Ketua Panpel dan Ketua Keamanan. Mereka semua menjamin bahwa the Jakmania akan bisa masuk dan tiket akan disiapkan khusus. Paling tidak itulah info yang gw dapet dari tim Advance The Jakmania.

1 bis pertama tiba di Stadion Siliwangi. Viking siap menyambut dan mempersilahkan masuk ke stadion, padahal tiket belum di tangan. Sayang hal yang dikhawatirkan Viking terbukti. Perlahan tapi makin lama makin banyak datanglah bobotoh nyamperin the Jak dengan sikap yang tidak simpatik. Melihat gelagat buruk ini Viking minta the Jak tuk keluar dulu ke stadion sambil menunggu rombongan berikut. Sembari menunggu, gw dan beberapa rekan dari The Jakmania ada yang melaksanakan sholat ashar dulu. Ketika selesai sholat, mulailah terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Rekan2 kita dari the Jakmania mendapatkan pukulan disana sini dengan menggunakan kayu. Salah satunya tersungkur berlumuran darah yang keluar dari kepalanya. Melihat situasi ini the Jakmania kembali diungsikan menjauh dari stadion.

Rombongan besar 8 buah bis akhirnya tiba juga. Tapi karena terlambat, stadion Siliwangi sudah penuh sesak. Lagipula kita tetap tidak berhasil mendapatkan tiket. Panpel memang kelihatan salah tingkah dan berusaha mengumpulkan dari calo2 yang masih beredar di sekitar stadion, namun jumlahnya juga tidak memadai hanya 300 lembar. Sementara bobotoh yang masih berada di luar juga mulai melakukan serangan terhadap the Jakmania. Gw sempet coba menenangkan dan cekcok dengan seorang rekan bobotoh yang ngambil dengan paksa kacamata anggota The Jakmania. Bobotoh itu bilang kalo dia kesal sama anak Jakarta karena mereka juga diperlakukan dengan tidak simpatik di Jakarta ketika menyaksikan pertandingan Persijatim vs Persib di Lebak Bulus. Bobotoh tidak mau tau kalo Persijatim tu beda dengan Persija. Seingat gw kejadian ini sempat direkam foto oleh wartawan dari Tabloid GO dan terpampang jelas esoknya di media tersebut.

Gw lalu ngambil inisiatif tuk nyari rombongan pertama the jakmania yang dateng duluan dan mengajak mereka tuk gabung ke rombongan besar. Disana gw minta maaf ke semua anggota The Jakmania karena gagal membawa rombongan sampai masuk ke stadion dan pulang dengan aman. Di situ dari Panpel juga sempat minta maaf. Namun kondisi ini tidak bisa diterima oleh seluruh rombongan The Jakmania, bahkan mereka juga tidak mau berjabat tangan dengan gw dan 2 orang Viking lainnya yang masih setia mengawal meski pertandingan sudah berlangsung.

Ketika rombongan hendak pulang, tiba2 The Jakmania diserang lagi oleh bobotoh yang masih nunggu di luar stadion. Kondisi ini jelas tidak bisa diterima oleh The Jakmania. Sudah ga bisa masuk masih juga diserang. Akhirnya The Jakmania balas perlakuan mereka (Oknum Bobotoh). Jumlah bobotoh di luar stadion masih ratusan sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan pecahnya kaca2 mobil akibat terkena lemparan dari kedua kubu. Ketika polisi datang, keributan mereda dan the Jakmania mulai beranjak pulang. Sempat pula terjadi bentrok beberapa kali ketika rombongan berpapasan dengan bobotoh yang pulang karena tidak kebagian tiket.

Sejak saat itulah api dendam dan permusuhan terus berkobar di kedua belah pihak. Puncaknya di acara Kuis Siapa Berani di Indosiar. Acara ini diprakarsai oleh Sigit Nugroho wartawan Bola yang terpilih menjadi Ketua Asosiasi Suporter Seluruh Indonesia.
Sayang bentrokan ternyata ga bisa dihindari. Bukan gw memihak tapi faktanya memang Viking yang mulai. Mereka neriakin yel2 “Jakarta Banjir” yang dibales juga oleh the Jak. Suasana memanas hingga akhirnya terjadi benturan fisik.

Letak Indosiar di Jakarta, jadi ga heran pelan2 berdatanganlah para suporter Persija kesana. Suasana sudah tidak terkendali dan atas inisiatif Polisi dan Indosiar, Viking langsung diungsikan dengan menggunakan truk Polisi. Namun kejadian ini ternyata dah menyebar luas kemana-mana hingga akhirnya terjadilah penyerangan terhadap rombongan Viking di tol Kebon Jeruk.

Gw juga heran gimana Viking menyatakan klo hadiah menang kuis dirampok the Jak padahal hadiah itu kan belum diserahkan pihak Indosiar. Hadiah itu pun sampe sekarang ga kita terima. Saat itulah nama the Jakmania menjadi buruk. Di mata media the Jakmania tidak menerima kalah sehingga menyerang. Opini sudah terbentuk dan masyarakat di Bandung juga ikutan menghujat, sementara di Jakarta menyayangkan.

Semenjak terjadi permusuhan dengan the Jakmania, apalagi setelah kejadian Indosiar, Viking berkembang pesat menjadi suporter yang dominan di Bandung. Mereka terus menebarkan kebencian ke the Jak dengan mengeluarkan kaos2 dan lagu2 yang bersifat menghujat the Jak. Reaksi anggota the Jakmania juga heboh. Mereka rame2 bikin kaos yang balas menghujat Viking.

Sikap ini justru malah mengobarkan api kebencian suporter Persija terhadap Viking. Sehingga the Jakers banyak yang benci mereka bukan karena tau kejadian awalnya, tapi karena mereka ga suka dikata-katain terus. Belakangan Komisi Disiplin mengeluarkan larangan akan hal-hal seperti ini. Terlambat! Dan penerapannya juga ga konsisten, masih banyak yang tetap melakukannya, bukan hanya Viking atau the Jakmania tapi hampir di semua stadion di Indonesia.

Sebetulnya ada juga pihak2 yang mengusahakan perdamaian. Panpel Persib pernah berinisiatif mempertemukan the Jakmania dan Viking di Bandung. Tapi pertemuan tersebut buntu karena tidak ada niat dari Heru Joko tuk berdamai.

Perseteruan makin melebar. Semakin banyak Viking yang masuk ke website the Jakmania dan menebarkan virus kebencian … semakin banyak dan besarlah kebencian the Jakers ke mereka. Bahkan Panglima Viking Ayi Beutik sempat mengeluarkan pernyataan tuk menjaga kelestarian permusuhan ini seperti Barcelona dan Real Madrid.

Sekarang permusuhan the Jakmania kontra Viking menjadi warna tersendiri bagi sepakbola Indonesia. Seorang sutradara tertarik menjadikan perseteruan ini sebagai inspirasi dalam filmnya yang berjudul ROMEO & JULIET. Di tengah perseteruan, Viking justru kompak untuk menolak film ini dengan alasannya masing2. Ketua Viking dengan didukung anggotanya membuktikan ucapannya dengan menggagalkan pemutaran film ini. Sementara di Jakarta justru sebaliknya, meski pimpinan menyatakan akan menuntut tapi toh hampir semua bioskop2 di jabodetabek dipenuhi oleh The Jakmania yang memang sudah ga sabar menanti film ini diputar.

Nah, itulah kisah panjang tentang permusuhan 2 kelompok suporter besar di Indonesia, paling engga dari kacamata gw. Tulisan ini dibuat atas permintaan seorang bobotoh yang penasaran dengan sebab musabab permusuhan tersebut. Gw juga ga suka dengan orang yang berkomentar sinis baik terhadap the Jakmania maupun Viking. Mereka itu tidak tau apa2, bisanya cuma menghakimi aja. Ada hak apa mereka menghujat? Liat dulu kisahnya baru mereka akan berpikir dan bantu mencarikan solusi.

Klo lu tanya ke gw, masih ada ga kemungkinan damai? Jawabanya ‘bomat” alias bodo amat. Ngapain mikirin? Bagi gw damai tu bukan kata benda, tapi kata kerja. Jadi ga usah banyak ngomong, yang penting buktiin. Lebih baik mikirin KOMITMEN masing2 aja, lebih cinta mana kita sama PERSIB atau sama PERMUSUHAN DENGAN THE JAKMANIA?

Sumber : Link

Categories: Jakmania, Viking Tag:,

Persija Jakarta Ampe Mati

Supporter – Life Style… atau Gaya Hidup. Itulah kata yg gw kumandangkan ketika disuruh orasi dalam rangka pemilihan Ketua Umum the Jakmania periode 2001-2003. Gw pengen atribut dan merchandise Persija dan the Jakmania jadi pilihan masyarakat Jakarta tuk dipake bepergian kemanapun, acara apapun, dan kegiatan yg kaya gimanapun. Gw pengen atribut oren sering dipake orang ketika dia lari pagi, mo pergi berenang, jalan2 ke mall, berkunjung ke pacar, kerja, sekolah, kuliah, dll. Atribut itu kan bisa kaos, topi, pin, jaket, baju, gelang, sepatu, sendal, stiker, kupluk, jas ujan, dan masih banyak lagi. Setelah gw terpilih, gw langsung wujudin kata2 gw itu dengan rajin bikin kaos2 Persija dan the Jakmania. Waktu itu memang belum banyak yg bikin, paling2 pedagang kaki lima yg asalnya justru dari Jawa Barat.

Nah, ketika gw pergi ke Bekasi kemaren, gw liat fenomena itu bener2 udah terwujud, bahkan lebih. Banyak sekali gw liat sekelompok bocah2 receh (usia 15 taon kebawah) jalan kaki dengan menggunakan seragam oren bertuliskan Persija atau the Jakmania. Komeng, Korwil Bekasi juga bilang ke gw, kalo di Bekasi budayanya emang kaya gitu. Gw liat dengan mata kepala sendiri kalo kelompok2 bocah receh itu ga cuma sekali, tapi banyak kelompok dan tersebar hampir diseluruh kota dan kabupaten Bekasi. Luar biasa kan. Padahal Bekasi itu Jawa Barat loh.


Sejenak gw bangga dengan fenomena ini. Ya, sejenak. Ketika Komeng cerita kalo kelompok2 bocah itu juga tidak jarang berbenturan dengan kelompok yg merupakan pendukung dari klub lain, gw jadi kaget dan berpikir…. sebetulnya mereka pake kaos itu, jalan2 keliling berame-rame, untuk apa? Bangga sebagai pendukung Persija, atau karena ingin perang dengan kelompok lain?

Pikiran gw jadi melayang ke Senayan. Setiap pertandingan Persija, banyak sekali rombongan yg ga msuk ke dalem. Mereka cuma nongkrong2 di depan. Entah nunggu jebolan, atau emang ga niat nonton. Ga sedikit di antara mereka yg maen kartu (entah judi atau enggak), ada yg cuma nyanyi2 di atas bis, ada yg jalan2 keliling nyari kaos, ada yg pacaran, ada yg nyari jodoh, ah pokoknya macem2 lah. Kalo dipikir ngapain mereka jauh2 dateng kalo cuman gitu doang? Banyak diantara mereka yg dateng jauh2 dari kediamannya, dan ga sedikit yg dateng dengan melewati wilayah2 konflik sehingga harus turun dulu dari bis tuk tawuran. TAWURAN… ya kata itu yg jadi momok di setiap pertandingan Persija. Entah itu perkelahian dengan musuh, lawan masyarakat setempat, atau bahkan sesama orang oren. Kalo begini, gw jadi bertanya….SEBETULNYA GAYA HIDUP APA YG SEKARANG MELANDA KITA? Gaya Hidup dengan atribut oren yg gw sebut di atas, atau gaya hidup tawuran?????

Sedikit banyak ada rasa bersalah dalam diri gw. Kenapa ya dulu gw kumandangkan kata PERSIJA SAMPE MATI. Padahal sejarah kata2 itu keluar ketika gw diwawancara oleh salah satu media cetak, dan juga sempat direkam oleh Andi Bachtiar Yusuf yang kemudian dijadikan salah satu bagian dari film pertamanya yg berjudul THE JAK. Gw ditanya … sampe kapan sih dukung Persija? Ya gw jawab… sampe mati. Kata2 ini yg jadi judul artikel di majalah MTV Trax yang wawancara gw. Majalahnya sendiri juga masih gw simpen ampe sekarang.

Tapi sayang, gw liat kata2 itu salah diartikan oleh mayoritas Persija Lovers sekarang. Mereka mengartikan dengan rela berkorban nyawa dengan bertempur lawan siapapun yg menghadang. Mereka sepertinya bangga kalo dateng ke Senayan dengan bertempur dulu. Mereka makin bangga kalo ada korban yg jatuh di kedua belah pihak. Mereka bangga dan cerita terus di Senayan hingga lupa masuk ke dalam stadion. Mereka lebih bangga pada diri mereka yg begitu militan daripada bangga melihat Persija bertanding. Ah, miris gw……

Wahai the Jakers sebangsa dan setanah air….. Urusan nyawa adalah tanggung jawab kita pada ALLAH. Kita semua dikasi jasad yg begitu sempurna. Kita dllengkapi dengan anggota tubuh yg memudahkan kita tuk menjalani hidup ini. Lalu apa tanggung jawab kita ketika nyawa meninggalkan jasadnya? Apa kita cuma akan bilang… ya ALLAH… aku kembali padamu karena aku berperang melawan manusia ciptaanmu juga. Banyak rekan yg mendahului kita. Tapi apa kita tau? Apa sebenarnya yg diinginkan mereka yg sudah mati? Balas dendam? Hutang nyawa bayar nyawa? Kita tidak akan pernah tau!!! Tapi kita juga jangan SOK TAU!!!

Sekarang tergantung pada kita semua. Bagaimana kita menghormati pengorbanan rekan2 kita. Bagaimana kita menghargai dan menarik hikmah dari pengalamannya. Bagaimana kita menempatkan kematian mereka sebagai sumber inspirasi kita untuk memperbaiki cara2 kita dalam memberikan dukungan pada PERSIJA. Ingat!!! BERANI BUKAN BERARTI MENANTANG!

(Tulisan ini gw buat sebagai rasa hormat gw yg sebesarnya pada Ucok the Jak CIkarang, Fathul Mulyadi the Jak Ragunan dan masih banyak lagi sodare-sodare yang sudah mendahului kite)

Ditulis Oleh [Bung Ferry]

Source : Jakmania.org

Foto : TabloidBola :Erly Bachtiar

Categories: Jakmania Tag:

Apakah Jakarta hanya milik Jakmania?

Supporter – Bisa di lihat dan tak usahlah saya berkata banyak tentang laga derbi, tidak hanya di indonesia, di luar negeri/di inggris yang sejarah sepak bolanya sudah ratusan tahun masih saja laga derbi menimbulkan polemik panas, mulai dari pemain hingga supporter, adu jotos bak petinju bukan pemandangan langka lagi, hebat dan luar biasa saya katakan, menurut kalian?…

Dan bagaimana keadaan derbi di Luar negeri?saya tidak akan bercerita hal tersebut,silahkan jalan-jalan di google terkait aroma derbi di luar negeri, saya hanya akan mengulas derbi Liga Indonesia meskipun”sedikit”, ISL dan nama-nama liga sebelumnya juga sering terjadi bentrok antar pemain, panasnya laga membuat GAP(Persaingan) antara pemain membuat mereka sudah tidak bisa menahan tangannya untuk tidak melakukan pemukulan kepada pemain team lawannya,bahkan seorang pemain yang berlabel TIMNAS pun bisa terpancing nafsunya untuk main tangan, siapa pemain tersebut?silahkan juga cari di google, klo saya ulas di sini bisa jadi saya kena UU IT.

Musim ISL kali ini ada 2 laga derbi, di Jakarta antara Persitara dan Persija, laga klasik dua team ibu kota yang tidak pernah akur antar Supporternya”NJ MANIA” dan “JAKMANIA” mereka selalu serang dan tak ada satupun yang berjiwa besar untuk mengalah, JAKMANIA sendiri mem-PLOT tidak ada team lain atau Supporter lain di Ibu Kota selain Persija dan Jakmania, sehingga keberadaan si Pitung dengan NJ Mania tidak pantas ada di Jakarta, hanya Orange sajalah yang pantas dan wajib di akui di Ibu Kota! kenapa Supporter Persija banyak pendukungnya selain Persitara?

Saya menilai faktor penyebabnya adalah masalah nama yang di gunakan, jika Persija adalah “PERSATUAN SEPAK BOLA JAKARTA” yang artinya adalah secara umum/global, sedangkan Persitara adalah “PERSATUAN SEPAK BOLA JAKARTA UTARA” itu tandanya Persitara hanya milik masyarakat Jakarta Utara, yang luas wilayahnya tentu saja tidak sebanding jika Jakarta secara keseluruhan begitu juga jumlah pendukungnya.

Keadaan seperti ini adalah sebuah ironi, hanya karena masalah sekecil itu konflik bisa terjadi, sama-sama betawi yang harusnya bisa saling menghormati, namun ingat saya tidak bermaksud menyinggung Suku. Jakarta adalah Ibu Kota negara Indonesia, tentu saja penduduknya tidak hanya dari Jakarta saja, semua warga negara berhak untuk tinggal di sana untuk mencari penghidupan yang lebih baik, tapi jangan ke Jakarta hanya untuk “GEMBEL” menjadi pengemis, perampok/ jadi Setan wujud manusia, dimana kedatangannya menimbulkan masalah bagi orang lain.

Kembali ke Topic, masalah rivalitas dan keinginan untuk memadukan Jakmania menjadi satu tanpa terpecah belah sebenarnya adalah tujuan baik, dengan harapan seluruh Jakarta menjadi Satu, seperti Kata2 yang sering di ucapkan oleh Jakmania”Satu Jakarta Satu”.

Tapi dimana letak HAM bagi supporter NJ MANIA? meskipun sedikit tetap hargailah mereka wahai saudaraku Jakmania, mereka berhak menjadi bagian Jakarta, pakailah Orange kalian dan hormatilah Biru nya NJ MANia, jika Jakmania dan NJ Mania bertemu seluruhnya, saya yakin kok kalo berantem tanpa ada yang memisah warna biru tidak akan kelihatan”"maaf”bukan bermaksud memojokkan NJ MANia dan tak ada keinginan dari saya agar kalian saling berantem.

Ke depan, temen-temen Jakmania dan NJ Mania dapat kokoh menjadi satu bagian Supporter Jakarta yang bisa membawa nama baik Jakarta dan Supporter ibu Kota pada Umumnya, tidak lucu kan satu saudara, yang jika terjadi hujan sama-sama kebanjiran tapi di saat mencari hiburan berupa sepak bola kalian malah saling memurkai,harap di pikirkan.Hargailah yang lain jika kalian ingin di Hargai, semua yang di tanam akan kembali ke diri kalian masing-masing. Salam Satu Jiwa.

Hendy prima/Aremania

Persija selalu mengalami masalah

persijaSupporter – Tim Persija Jakarta dipastikan menghadapi masalah soliditas akibat perebutan pengaruh dan kebijakan internal klub. Dualisme panita pelaksana (panpel) pertandingan dan intervensi berlebihan terhadap manajemen klub disinyalir menjadi penyebab terganggunya kesolidan tersebut.

Hal itu diungkapkan Direktur Umum PT Persija Jaya, Bambang Suctipto kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (14/11). “Ketua Umum Persija (Toni Tobias) membentuk panpel versi baru. Padahal, panpel lama sebenarnya sudah terbentuk dan sudah lolos verifikasi PT Liga Indonesia selaku penyelenggara kompetisi Liga Super Indonesia 2009/10,” ujar Bambang.

Namun, kebijakan tersebut menimbulkan polemik baru yang merugikan Persija. “Kami sudah memiliki sertifikat dan berpengalaman mengelola panpel, dan keabsahan kami juga terdaftar,” tegas Bambang. Dia menambahkan, sesungguhnya panpel merupakan kewenangan PT Persija Jaya.

“Masalahnya, ketua umum pun turut menempatkan orang baru di kepanitiaan yang jelas-jelas bukan anggota Persija. Mereka bukan personel profesional yang berkecimpung dalam sepakbola dan belum pernah sekalipun mengikuti workshop Liga,” ujarnya.

SIAP TAK UNTUNG
Padahal, lanjut dia, untuk menjadi panpel harus siap untuk tidak untung. Karena itu, masalah kepanitaan ganda tersebut akan diserahkan kepada Muhayat (Pembina Persija yang juga Sekda DKI Jakarta) dan Joko Driyono (CEO PT Liga Indonesia) guna dicarikan solusinya.

Seperti diberitakan, Ketua Umum Persija Pusat Toni Tobias mendaftarkan Wargo sebagai Panpel Persija ke PT Liga Indonesia. PT Persija Jaya pun rencananya kukuh akan mendaftarkan dirinya kembali mengelola pertandingan Persija.

Panpel Persija musim lalu, mengklaim rugi Rp1 miliar lantaran tak dapat izin pertandingan kandang di Jakarta. Akibatnya, Bambang Pamungkas dkk. terpaksa menjalani sembilan pertandingan kandang di Malang, Jepara, maupun Soreang.

Categories: Jakmania Tag:,

Jakers Cerebon, ada karena Persija

Supporter - PERSIJA adalah sebuah klub sepakbola yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya para pecinta sepakbola tanah air.

Maka tidak heran, jika setiap pertandingan PERSIJA yang ditayangkan secara langsung ataupun tidak mendapatkan respon yang sangat tinggi. Sehingga tidak heran, banyak komunitas-komunitas PECINTA PERSIJA yang ada di daerah-daerah luar Jakarta bermunculan, tak terkecuali Kota Cirebon. Cirebon, memang merupakan bagian dari wilayah Jawa Barat, tapi antusias anak-anak yang menyukai PERSIJA sangat tinggi.

JAK CERBON ataupun JAK PANTURA, itulah komunitas yang mereka namakan. Tepatnya tanggal 1 November 2009, mereka mengadakan acara TEMU MUKA atau SILATURAHMI antar sesama PECINTA PERSIJA yang ada di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Mereka berniat menyatukan suara, dan membulatkan tekad, DUKUNG PERSIJA TANPA HENTI, WALAUPUN BANYAK COBAAN DAN RINTANGAN.

Acara yang dihadiri kurang lebih sekitar 40 massa PECINTA PERSIJA, berjalan lancar dan aman terkendali, meski masih banyak kekurangan dan sempet mendapatkan teror dari kelompok yang tidak suka dengan keberadaan mereka.

Bahkan acara tersebut, kedatangan tamu dari supporter tetangga. MILITAN REWO-REWO, JULUKAN SUPPORTER PERSIBAT BATANG, yang diwakili Mas Lambe. Sebelum acara ditutup sang Moderator JAK CERBON, saudara BEJO RIYANTO, sempat mengatakan kepada anak-anak yang hadir dalam acara tersebut. “Sumpah, gw sangat terkejut dan bangga dengan acara yang kalian adakan ini, karena massa yang datang, begitu banyak dan diluar perkiraan gw. Ternyata di Cirebon banyak juga ya yang suka sama PERSIJA, gw salut dengan kalian semua. Semoga di hari-hari yang akan datang, kita bakalan lebih banyak lagi yang akan mencintai PERSIJA. Dan semoga akan terwujud keinginan kita, menjadi KORWIL JAK CERBON. Tapi,kita jangan pernah lupa untuk terus melakukan koordinasi dengan pihak warga dan keamanan setempat, supaya kita tidak dicurigai, kalo kita ini bukan kumpulan supporter atau kumpulan genk yang sering meresahkan warga sekitar. Tunjukkan, bahwa kita supporter yang sangat santun. Berikan senyuman khas THE JAKMANIA, kepada masyarakat CIREBON dan sekitarnya. Agar kita bisa diterima dengan baik dan mendapatkan simpatik dari masyarakat setempat” paparnya.
Acara diakhiri dengan foto bersama dan membagi-bagikan nasi, kepada anak-anak jalanan. *JAKERS PANTURA CERBON

JAK CERBON
ADA KARENA PERSIJA

(Jakmania.org)

Categories: Jakmania Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.