Arsip

Archive for the ‘aremania’ Category

Fanatisme Supporter Bola yang menembus Batas Nalar

Supporter – Saya “dihantui” pertanyaan mengapa para suporter begitu antusias memberikan dukungan kepada klub, pertanyaan itupun berlaku para diri saya sendiri. Saat saya menemani kru film dari salah satu kampus di Jogja membuat film dokumenter tentang supporter AREMA (Aremania), kami nememui beberapa kelompok suporter yang datang dari berbagai daerah yang secara geografis letaknya jauh dari Malang, tempat Arema berdiam.

Beragam komentar mereka, namun ada satu kesamaan pandangan, dukungan mereka untuk Arema Indonesia, salah satu klub sepakbola peserta Liga Indonesia 2010. Namun mengapa mereka rela jauh-jauh datang ke Malang  hanya utuk menonton? Padahal salah satu stasiun televisi menyiarkan secara langsung. Dimana mereka bisa santai menikmati tayangan televisi tanpa berlu berlelah–lelah dan bersusah payah hadir ke staion berpanas-panas, menunggu berjam-jam di dalam dan di luar stadion Kanjuruhan. Fakta yang hadir di lapangan, pertandingan antara Arema melawan Persebaya berlangsung pukul 19.00 (7 malam), namun sejak pukul 7 pagi lingkungan stadion sudah mulai dipenuhi supporter. Umumnya mereka mencari tiket menonton pertandingan yang saat hari-H harganya melambung tinggi, mencapai 2 kali lipat dari harga normal. (sebagai informasi, harga tiket pertandingan Arema termasuk yang paling tinggi).  Pukul 11 siang stadion telah dibuka, padahal pertandingan masih 8 jam lagi. Mereka rela berpanas-panas di dalam stadion menunggu pertandingan dimulai. Benar-benar fanatisme di luar nalar.

Di dalam stadion mereka sudah bernyanyi meneriakkan dukungan kepada klub kebanggan mereka. Panas matahari tak menghalangi mereka untuk tetap bertahan di dalam stadion. Setiap peristiwa kecil yang terjadi dalam stadion menjadi hiburan bagi mereka untuk mengatasi kejenuhan menunggu pertandingan dimulai. Setiap peristiwa yang terjadi di dalam stadion menjadi hiburan yang tidak akan diperoleh oleh para penonton pertandingan melalui siaran televisi. Kita bisa menyaksikan “atraksi” suporter  Arema berjender wanita (Aremanita) yang melompati pagar, beragam spanduk berisi himbauan dan dukungan diarak memutari stadion, perkenalan kelompok suporter lain, seperti: Pasoepati (Solo), LA Mania (Lamongan), suporter Persewangi (Banyuwangi) yang disambut tepuk tangan dari Aremania didalam stadion. Belum termasuk show dari Aremania yang datang dari berbagai wilayah, seperti Bali dan Jogja. Benar-benar menghibur dan membanggakan. Begitu para pemain Arema memasuki stadion, sambutan makin meriah, penonton segera menyanyikan lagu-lagu khas supporter sebagai bentuk dukungan total mereka terhadap klub kebanggaannya.

Saya membayangkan andai Indonesia bisa benar-benar bersatu tanpa melihat perbedaan yang ada. Melihat perbedaan sebagai sesuatu yang tidak untuk dipertentangkan namun, menjadi anugrah bahwa keberagaman itu indah bila kita dapat memakanainya dengan jiwa, seperti slogan khas Aremania, SALAM SATU JIWA

Oleh : Ferry Agusta

(Cerita dari Tour Aremania Jogjakarta)

Blog : ferryagusta.wordpress.com

Categories: aremania Tag:

Presiden SBY Senang Supporter Aremania

Supporter – Presiden SBY diagendakan hadir di Malang dalam acara Kongres Sepakbola Nasional akhir Maret mendatang.

Kota Malang mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Kongres Sepakbola Nasional yang akan dihadiri oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora) Andi Mallarangeng bahkan menerjunkan tim khusus untuk kelancaran dan persiapan kongres yang rencananya mulai digelar 30 Maret mendatang itu, termasuk agenda kedatangan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ke Malang dan diagendakan melihat langsung pertandingan Liga Super di Kanjuruhan.

“Presiden ada agenda menonton pertandingan Arema, kita lihat nanti pertandingan yang mana di sela-sela kongres. Presiden sangat senang dengan suporter Malang (Aremania). Tampaknya Kota Malang adalah tempat yang paling cocok untuk kongres,” jelas Andi Mallarangeng kepada Malang Post.

“Presiden sangat senang dengan suporter Malang (Aremania),” Menegpora Andi Mallarangeng.

Menurut Andi, KSN akan membahas banyak masalah penting terutama prestasi timnas Indonesia. “Masalah penting yang harus dibahas adalah peningkatan sepak bola di Indonesia. Kita berkeinginan Timnas Indonesia bisa masuk papan atas Asia Tenggara, bahkan papan atas tingkat Asia,”

KSN akan membicarakan banyak hal untuk mencari solusi agar sepak bola Indonesia bisa berprestasi. Di antaranya adalah masalah organisasi, kompetisi, dan manajemen sepak bola di Indonesia, demikian dijelaskan Margiono, ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf saat menggelar pertemuan di Malang, Selasa (2/3) yang dilansir Berita Jatim menjelaskan, “Semua yang terlibat nanti adalah seluruh komponen bola dan stakeholder yang berkecimpung dalam sepakbola. Termasuk, akan kita rangkul seluruh suporter agar tidak ada lagi permusuhan,”

Menurut Gus Ipul, sapaan akrab Syaifullah Yusuf, ditunjuknya Kota Malang sebagai tuan rumah kongres sesuai dengan petunjuk Pemerintah Pusat. Terlebih, suasana dan atmosfir bola di Malang dirasa maju dan kondusif.

Sumber : Ongisnade.net

Categories: aremania, Headline Tag:,

Mengenal Sang Dirigen- Aremania – Yuli Sumpil

Supporter – Bagi yang belum mengenal Yuli Sumpil, tokoh dalam The Conductors, film dokumenter teranyar karya Andi Bachtiar Yusuf. Berikut ini adalah tulisan Antariksa yang ada di aremania.web.id yang mudah-mudahan bisa memberikan informasi tentang sosok dan keseharian Yuli Sumpil.

The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).

“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”

Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.

Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu berusaha melakukan apa saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin terlambat datang ke stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika pertandingan berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap sejak pagi, bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap melompat ke dalam bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk menuju kota tujuan.

Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.

Yuli saat memimpin di Kanjuruhan dan Senayan

Singamania , Yuli(Aremania), Jakmania, Paserbumi saat demo di kantor PSSI

Yuli menyuarakan aspirasi bersama di Jakarta

Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.

Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.

Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.

Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.

Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.

Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok,” kata Yuli menirukan ibunya.

Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.

Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.

Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.

Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya datang rupanya mereka sedang membicarakan rencana menjahit pakaian dirigen baru buat Yuli. Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”

Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Dengan bersemangat ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya pada saya. Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.

“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli sembari mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas skotlandia dari lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.

Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan peremuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.

Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya dicat biru, dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang berbau Arema. Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1 kali 1,5 meter, dibuat dengan teknik cetak yang baik, memerlihatkan gambar kepala singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema. Bagian bawah poster itu bertuliskan “Di saat prestasi bangsa Indonesia sedang terpuruk, bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang tercabik, Aremania melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan pasang mata di layar kaca terkagum oleh sportivitas,” kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, “Aremania, pride of the city, friendship without frontier, footbal without violence, the incorporable suporter, the incredible Malangese”.

Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu buat Aremania. Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia hanya memodifikasi saja syair lagu-lagu yang sudah ada, sementara nada dan iramanya tetap dipertahankan. Sumbernya bisa datang dari mana saja. Bisa lagu-lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak, lagu pramuka, lagu selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus, suporter kesebelasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang dilihatnya di film atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu yang berjumlah 30-an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya saja. Prinsipnya adalah ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang mudah ditirukan dan dingat orang lain. Menurut Yuli, seringkali para suporter juga memberikan usulan tarian dan lagu baru beberapa saat sebelum sebuah pertandingan dimulai.

Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayana. Mereka datang bukan hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat bagaimana Aremania menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di Gajayana hanyalah monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini perempuan dan orang-orang keturunan Cina juga datang menonton ke stadion. Hampir-hampir tak ada lagi kerusuhan dan perkelahian.

“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miiskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,” kata Yuli.

Sumber : yossyrahadian.wordpress.com

*Nantikan Artikel dan Liputan lain tentang dirigen Supporter di Indonesia*

Categories: aremania Tag:, ,

Group Aremania dan Viking Satu Warna

Supporter – Salam damai supporter Indonesia, sebagaimana kita ketahui acap kali Viking  dan Aremania saling caci,  bermusuhan, atas dasar apa yang melandasi mereka saling bermusuhan? redaksi menemukan sebuah group facebook bernama Aremania dan Viking Satu Warna bukan musuh berikut kutipan profil dari halaman tersebut :

Kenapa Aremania – Viking Sekarang seolah-olah saling bermusuhan. mungkin itu sebagian yang ada dalam pikiran kita bersama (aremania-viking). Jika menoleh kebelakang track record yang terjadi antara aremania-viking, kita mungkin tau nyaris tidak ada perselisihan sedikitpun yang kita alami. terbukti saat ini ketika aremania bertandang ke bandung hampir tak ada bentrok meskipun sedikit begitu juga yang di alami viking ketika bertandang ke malang.

Lantas kenapa sekarang aremania-viking bermusuhan?! mungkin aroma persahabatan antara aremania-jakmania dan bonek-viking yang terkenal dengan bonek viking satu hati. Tetapi konflik intern yang terjadi antara Aremania-Bonek dan jakmania-Viking membawa pengaruh yang negatif tentang persahabatan Aremania – Viking yang lama terjalin.

Viking dan Aremania di Gajayana,saat ujicoba Arema vs Metro FC

Satu Warna yang seragam dalam satu Jiwa

Tidak ada permusuhan antara Viking dan Aremania

Viking dan Aremania adalah Supporter Indonesia

Tetap Saudara dalam satu warna

Bersama akan lebih indah

Dua Supporter besar tanah air berwarna biru

Semua insan sepakbola nasional juga tau Aremania, Viking, Bonek, Jakmania adalah 4 kekuatan besar supporter sepakbola nasional. Layak kah perselisihan ini di jaga?! jika kita menengok kondisi sepakbola indonesia dalam khususnya supporter, mungkin kita bisa anggap saat ini di indonesia terdapat kekuatan besar supporter sepakbola yang bisa kita sebut kekuatan barat dan timur jika kekuatan barat sekarang dihuni oleh jakmania, aremania, pasoepati dan La mania yang kita ketahui punya track record bentrokan dengan bonek dan bonek, viking, persikmania yang berselisih dengan jakmania dan aremania. lantas kemana kiblat supporter lain akankah slemania, boromania akan ikut blok barat karena pernah berselisih dengan bonek?! jika itu terjadi sangat disayangkan kondisi sepakbola indonesia saat ini. oleh karena itu apa gunanya ikrar damai yang diikuti oleh seluruh supporter indonesia.

Semoga menjadi contoh dan awal perdamaian yang memang semestinya di jalankan.

Jika kawan Supporter ingin bergabung silahkan menjadi anggota di Sini

Copyright (Gambar):*Anggota Group *Aremania dan Viking Satu Warna bukan musuh*

*De’ Real Ongisnade

*Angga Lembhoe Shora

*-Brigandine LeonHart- (Hooligans PeaceMaker)

*Sinyo Endeles

*Fiaz Smarlev Staliknov

*Eka Prasetya

Categories: aremania, Viking Tag:,

TOUR Lamongan Aremania di kawal aparat

Supporter -  Begitu melihat antusiasme Aremania yang akan tour ke Lamongan dalam lanjutan Liga Super antara Tuan Rumah Persik Kediri vs Arema Indonesia, aparat kepolisian Polwil Malang akan melakukan pengawalan kepada kelompok Supporter Aremania,bukan karena mereka melakukan tindakan anarkisme atau karena ulah mereka yang kurang baik, namun pengawalan tersebut bertujuan untuk memberikan rasa aman kepada mereka dan agar Aremania akan tetap santun dalam memberikan dukungan kepada Pierre Njanka dkk.

Kapolres Malang AKBP Andhi Hartoyo, akan memberikan pengawalan khusus pada Aremania yang hendak berangkat ke Lamongan itu.Menurut Andhi, polisi akan mengawal Aremania sampai mereka tiba di Stadion Surajaya. Selain berpesan agar Aremania bisa menjaga ketertiban dan tidak terpancing untuk membuat kegaduhan, selama perjalanan, Andhi juga memastikan akan menerjunkan 100 Polisi guna mengawal keberangkatan Aremania itu.

Setiap bus yang diisi Aremania nantinya, akan diisi juga beberapa Polisi berpakaian preman dan dinas. Mereka akan mengawal Aremania ke Lamongan dalam rangka mendukung Arema Indonesia yang ditantang Persik Kediri pada laga lanjutan Indonesia Super League Rabu besok.

“Dari laporan yang masuk, 40 bus berisi rombongan Aremania nanti berkumpul di Pasar Lawang. Sedang 5 bus lainnya, berangkat dari Bululawang. Agar mudah pengawalannya, mungkin akan kita satukan dan diberangkatkan bersama-sama mulai Pasar Lawang sampai menuju Lamongan,” ungkap AKBP Andhi Hartoyo, Kapolres Malang yang menjamin keamanan ribuan supporter Aremania itu.

Dipastikan pukul 08.00 besok, ribuan Aremania akan berangkat dari Pasar Lawang dan Bululawang, Malang menuju Lamongan untuk menyaksikan tim kebanggaannya, Arema Indonesia dijamu Persik Kediri pada partai pindahan, Rabu (20/1/2010).

Rencananya, rombongan Aremania ini akan dikoordinir oleh beberapa korwil Aremania yang sudah menjadi tradisi jika bertandang ke tim tuan rumah untuk berangkat bersama-sama.

Disamping itu, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat Kepolisian dari Polres Malang akan mengawal ribuan Aremania yang akan bertolak ke Stadion Surayajaya, Lamongan.

“Besok pagi kami sudah sepakat untuk berangkat. Mudah-mudahan, tidak ada halangan berarti. Rencananya, saya berangkat dengan beberapa teman setelah berkumpul dulu di balaidesa,” ucap Hainul Umar, salah seorang Aremania asal Bululawang saat ditelepon, Selasa (19/01/2010) sore.

Menurut Umar, rekan-rekan Aremania sudah memberikan laporan langsung perihal keberangkatannya ke Polisi. Agar tidak terjadi gesekan, mereka pun juga mendapatkan pengawalan khusus mulai berangkat hingga kembali pulang ke Malang. Sedang dana yang dikeluarkan Aremania untuk menyewa bus, para Aremania melakukannya dengan cara swadaya.

“Untuk sewa bus, kita urunan. Sedang biaya tiket masuk, sudah kami siapkan sendiri dan langsung dikoordinir oleh para korwil Aremania,” terang Umar.

Categories: aremania Tag:

Bonekmania terpuaskan, Aremania terbebaskan

Supporter – Laga sarat gengsi dan emosi yang menautkan dua team kota Di Jawa Timur antara Surabaya dan Malang, jika di Klasemen sementara Arema Indonesia menduduki peringkat pertama dan Surabaya nomor sepuluh, jika perbandingan kota, Surabaya kota terbesar di Jawa Timur dan Malang kota kedua setelahnya, itulah yang membuat suasana semakin membuat emosi pendukung team Persebaya memadati kota Surabaya, lebih dari itu hubungan kedua Supporter tersebut memang tidak harmonis sama sekali, tapi justru itulah yang menarik dari laga Super BIG MATCH ISL Jawa Timur.

Sang pemuncak klasemen Singoedan harus pasrah dengan tidak membawa point sama sekali dari kota Pahlawan, setelah buaya mengkandaskan mereka dengan Skor 2-0, permaianan cepat singoedan ternyata mampu di patahkan dan di imbangi oleh buaya, pasukan Danurwindo”pelatih persebaya”tidak biasanya bermain seperti saat mengalahkan tamunya dari Malang, keras dan tajam, yang membuat taring Singoedan tak mendapatkan celah untuk menjinakkan sang buaya.

Seluruh kota Surabaya berwarna hijau, seperti tak ada celah untuk masuk ke dalamnya, Kelompok Supporter Bonek berduyun-duyun ke Gelora 10 November(Tambak Sari), saat-saat yang di nanti mereka(bonek.red) untuk melihat dan mendukung team kesayangannya menghancurkan Singoedan, seluruh tiket yang disediakan oleh Panpel terjual habis, dan Panpel meraup keuntungan senilai Rp.695Juta dari Derbi Jatim tersebut, ratusan bahkan ribuan bonek terpaksa tidak bisa masuk ke dalam stadion, pemasukan terbesar Bajul Ijo datang dari tiket ekonomi. Dari 26 ribu tiket yang disediakan dengan harga Rp 20 ribu, total panitia mendapatkan Rp 520 juta. Sedang dari hasil penjualan tiket utama sejumkah 2500 lembar dengan harga Rp 50 ribu, panitia mendapat Rp 125 juta.

Sedang untuk tiket VIP, dari 500 tiket yang dijual dengan harga Rp 100 ribu, Panpel meraup keuntungan sebesar Rp 50 juta. Bahkan penghasilal total Rp 695 juta itu sekaligus memecahkan rekor pertandingan lawan PSM Makassar lalu.

“Waktu itu kita dapat Rp 570 juta. Tapi hari ini rekor pecah. Kita total mendapat Rp 695 juta. Memang ini tak seperti Arema yang mendapat Rp 1 miliar, karena stadion kita lebih kecil. Tapi kalau kita sudah pindah ke Gelora Bung Tomo, pasti kita bisa lampaui rekor itu,” kata ketua Panpel, Paulus Helly.

Di Malang :

16 November 2010 bertepatan dengan hari dimana Aremania bebas dari hukuman selama 2 Tahun dari komdis PSSI yang di jatuhkan kepada mereka setelah melalukan tindakan pengrusakan stadion Brawijaya(stadion Persik) di Kota Kediri, selama masa hukuman mereka di larang mengenakan atribut yang berwarna biru dan atribut lain tentang Arema,selama menjalani masa hukuman, mereka masih tetap kreatif, syal yang biasa mereka kenakan saat datang ke Kanjuruhan di ganti dengan Bendera Merah Putih, tidak hanya itu, baju koko(muslim) dan kopyah mereka kenakan acap kali Arema berlaga, tidak di Kandang dan tidak pula saat tandang.

Aremania mengelar upacara pembebasan dan kemerdekaan di alun-alun kota Malang, setelah itu mereka melakukan konvoi mengelilingi Kota Malang, hingga berakhir di beberapa titik di Kota Malang untuk Nonton Bareng antara Persebaya Vs Arema Indonesia, begitu laga di mulai tempat-tempat yang di gunakan saat nonton bareng tak ubahnya suasana Kanjuruhan, mereka juga menyanyikan “Padamu Negeri” sesaat sebelum laga di gelar, dan terus bernyanyi sepanjang pertandingan di depan layar lebar untuk mendukung team pujaan mereka yang sedang berjuang di Surabaya, warna biru yang selama ini tidak nampak di Malang mulai Lahir Kembali.

Wajah kekecewaan keluar dari raut muka mereka, Kado kemeredekaan belum bisa di berikan oleh Arema kepada pendukungnya yang berada 2 Jam perjalanan(Aremania.red), Arema kandas atas rival abadinya 2-0, usai nonton bareng dan konvoi Aremania tertib, mereka sadar masih ada kesempatan untuk Revans di Kanjuruhan, Arema bermain bagus namun ternyata Persebaya bermain lebih lihai.

Inilah Aremania, selamat datang Aremania. Selamat Bonekmania atas kemenangan yang memang kalian harapkan dari Arema Indonesia, tetap bagaimanapun Aremania dan Bonekmania adalah Jawa Timur dan Supporter Indonesia, dengan segala kelemahan dan kelebihan masing-masing.

[Hendy Prima]

Kebangkitan dan Kembalinya Sang Aremania

Supporter – Sekitar dua tahun yang lalu saat pertandingan Antara Arema Malang Vs Persiwa Wamena di gelar di Stadion Brawijaya Kediri ribuan Aremania turut memberikan dukungan kepada skuad Singoedan, stadion milik Persik tak ubahnya kandang sendiri, betapa tidak, stadion yang biasanya di penuhi warna Ungu di padati dengan birunya Aremania. Namun dukungan yang di harapkan tidaklah sampai selesai 90 menit,.

Kerusuhan mewarnai pertandingan Arema melawan Persiwa di Stadion Brawijaya Kediri pada 17 Januari 2008. Wasit Jajat Sudrajat harus menghentikan pertandingan pada menit 69 ketika penonton yang sebagian besar Aremania menyerbu masuk ke Stadion. Aparat keamanan tak mampu membendung ribuan suporter yang meringsek masuk ke dalam Stadion. Wasit Jajat Sudrajat bersama pembantu wasit dan perangkat pertandingan harus dilarikan ke luar Stadion karena diburu oleh para suporter.

Melihat pertandingan dihentikan, ribuan penonton langsung menyerbu ke tengah lapangan. Tujuan mereka adalah memburu wasit dan perangkat pertandingan. Mereka mengamuk karena kecewa dengan kepemimpinan wasit yang sering membuat keputusan yang merugikan Arema. Tiga gol Arema dianulir wasit Jajat, belum lagi satu penalti yang seharusnya diperoleh Arema setelah Ellie Aiboy dilanggar dengan keras di kotak penalti Persiwa.

Sejak pertandingan dimulai, wasit Jajat sering membuat keputusan yang merugikan Arema. Tentu saja para penonton kecewa dengan keputusan tersebut. Kerusuhan dimulai saat ketika wasit menganulir gol Arema setelah terjadi kemelut di depan gawang Persiwa. Wasit Jajat Sudrajat menganulir gol tersebut setelah asisten wasit I Yuli Suratno. Keputusan tersebut menyulut kemarahan Aremania, karena sebelumnya gol Arema yang dicetak Ellie Aiboy sudah dianulir.

Penonton kemudian turun ke lapangan memukul asisten wasit I tersebut hingga terkapar. Yuli kemudian ditandu ke dalam ruang kesehatan untuk mendapat perawatan. Akibatnya, pertandingan ditunda sekitar 15 menit setelah pengawas pertandingan memutuskan Yuli diganti Suhadi Yunus. Pertandingan pun dilanjutkan. Kendati keputusannya mengundang emosi penonton, wasit Jajat masih sering membuat keputusan controversial. Salah satunya, heading Mbamba yang masuk ke gawang Charles Woof, langsung dianulir wasit setelah melihat asisten wasit II Sumarman mengangkat bendera. Hal itu menimbulkan reaksi penonton di tribun timur.

Aksi lempar pun dimulai, tapi tidak sampai membuat pertandingan dihentikan. Penyulut kerusuhan justru keputusan Sumarman yang mengangkat bendera tanda bola out saat umpan tarik Jainal Ikhwan menerpa mistar gawang dan bola kembali ke tengah lapangan. Jelas sekali bahwa bola kembali ke dalam lapangan tapi pembantu wasit menganggap out. Inilah yang membuat amarah penonton meluap. Penonton di tribun Timur mulai melempari Sumarman. Pembantu wasit itu kemudian berlari ke tengah lapangan minta perlindungan.

Tanpa diduga, ada seorang penonton yang masuk ke dalam lapangan menyongsong wasit dan langsung menghantamnya. Kerusuhan pun meledak. Dari seluruh sudut lapangan penonon menyerbu masuk ke dalam lapangan. Pagar lapangan dari kawat BRC tak mampu menahan gempuran penonton. Semua pagar roboh dan penonton pun meringsek ke dalam lapangan mengejar wasit dan perangkat pertandingan. Mereka juga melempar dengan botol minuman dan batu. Sayang, lemparan itu juga menimpa para pemain Arema. Kapten Alex Pulalo luka di kaki, sedangkan kiper Hendro Kartiko luka di kepala. Pelatih Joko Susilo terkena lemparan di tengkuknya. Suasana kacau itu berlangsung sampai beberapa menit disertai dengan batu yang berterbangan di sekitar ruang ganti. Bukan hanya melempar, mereka juga membakar barang-barang yang ada di lapangan.

Aparat keamanan pun tampaknya kurang sigap dengan kondisi ini. Mereka tidak segera mengantisipasi ketika penonton mulai melakukan pelemparan, bahkan sampai ada yang turun ke lapangan. Melihat aparat keamanan yang lunak itu membuat penonton semakin nekat masuk ke dalam lapangan. ‘’Petugas keamanan tidak siap dengan kondisi ini, kalau saja saat ada penonton yang masuk ke lapangan itu langsung dihadang, suasananya tidak parah begini’’ keluh sorang penonton di tribun VIP.

Aksi kemarahan juga berlanjut di luar lapangan. Penonton yang marah itu melempari rumah-rumah yang ada di sekitar lokasi parkir bus yang ditumpangi suporter. Aksi lempar juga terjadi di jalan raya menuju luar kota ke arah Malang. Kaca rumah hancur dilempari penonton yang marah.

Karena kejadian di atas Aremania di hukum oleh Komdis PSSI selama dua tahun, dan pada Sabtu,16 Januari 2010 hukuman yang di berikan kepada mereka telah usai, dan pada hari yang sama itu Aremania akan melakukan konvoi Kemerdekaan, sebagai bentuk perayaan atas kebebasan dari sanksi yang di jatuhkan, perlu di ketahui beberapa bulan yang lalu saat Ketua Umum Nurdin Halid terbebas dari hukuman, ia berencana memberikan Grasi berupa peringanan hukuman kepada pendukung Arema Malang, namun mereka dengan tegas menolaknya, mereka akan menjalankan sanksi sesuai aturan yang di terapkan, agar bisa menjadi contoh supporter lain di Indonesia.

Selama mendapatkan sanksi Aremania tidak di perkenankan memasuki stadion dengan menggunakan kaos bertuliskan Aremania, spanduk, syal dan atribut lainnya yang berwarna biru atau yang berhubungan dengan Arema, sehingga selama mendapat sanki mereka”Aremania.red” mengatakan dirinya WONG MALANG, saat mendukung singo edan.

Bukan Aremania jika tidak kreatif, selama masa hukuman, mereka kerap kali mengenakan Baju Batik, dan atribut2 kreatif lainnya, tak pula mereka juga membawa Bendera Merah Putih sebagai pengganti Syal Biru kebanggaan Arek-arek Malang,dan hingga sekarang stadion Kanjuruhan maupun stadion-stadion lain saat Arema bermain kandang/tandang nampak bisa kita lihat, jika ada bendera merah putih di sana, itulah Aremania yang sedang mendukung Singoedan Arema.

Dalam perjalanannya mendukung Arema, Aremania(dalam masa hukuman di sebut Wong Malang), tetap saja stadion tidak pernah sepi, sekalipun kosong tidak sampai setengahnya.

Memasuki awal tahun 2010 Arema Malang yang sebelumnya di kelola oleh PT.Bentoel berpindah tangan ke PT.BAT, sehingga perusahaan rokok yang selama ini membiayai Arema melepas kepemilikan Arema Malang, masalah pun mulai muncul terkait krisis finansial yang melanda managemen Arema, team seperti kehilangan induknya, namun Arema beruntung memiliki Supporter dengan fanatisme dan kepedulian yang tinggi, mereka (aremania) berupaya mencarikan dana tambahan dan memberikan sumbangan kepada Arema.

Akhirnya masalah krisis finansial tidak berlangsung lama, Arema di datangi orang-orang yang juga ingin dan akan membiayai Arema(termasuk dari kalangan Aremania),kemudian Arema Malang berganti nama PT.Arema Indonesia.

Masa transisi yang semakin mendekati putaran awal Liga Super Indonesia ke 2, persiapan yang minim dan apa adanya, namun karena adanya dukungan dari berbagai pihak, Arema bisa berdiri tegak karena Aremania, Arema Indonesia merekrut pelatih asal belanda yang pernah bermain  di team Ajax Amsterdam, Robert Rene Albert.

Di unsur pemain Arema Indonesia secara mengejutkan mendatangkan 2 pemain asia dari Timnas Singapura, adalah NOH ALAMSYAH DAN MUHAMMAD RIDHUAN, pemain asing lainnya yang di datangkan Arema adalah Pierre Njanka(mantan timnas Kamerun dan punggawa Persija),Laundry Poulangoye, dan punggawa lama Chmelo Roman.

Masa kompetisi pun di mulai, Musim ini, Arema mencatat rekor away terbaik di Liga Super, yakni empat kemenangan dalam enam pertandingan.

Namun dalam laga away terakhirnya, Arema kalah 0-1 dari Persela Lamongan yang merupakan kekalahan satu-satunya Arema musim ini.di kandang Arema belum terkalahkan.

Arema juga tercatat sebagai tim dengan pertahanan terkuat, yakni baru kemasukan empat gol dalam 13 pertandingan, masing-masing dua di kandang dan dua tandang.

Hasil pertandingan away Arema:
16 Desember – vs Persela Lamongan (0-1) KALAH
12 Desember – vs Persijap Jepara (1-0) MENANG
2 Desember – vs Pelita Jaya (2-0) MENANG
28 November – vs Persitara (0-0) IMBANG
25 Oktober – vs Persisam Samarinda (0-1) MENANG
22 Oktober – vs Bontang FC (1-2) MENANG

Sebuah prestasi yang membanggakan dengan persiapan yang minim, dan di penghujung tahun 2009, usai Arema mengkandaskan Sriwijaya Palembang 3-0 .Pelatih dan pemain asing Arema Malang mengancam akan “hengkang” (keluar) dari skuad tim berjuluk “Singo Edan” tersebut, karena kecewa dengan sikap manajemen tim tersebut.

Aremania Galang Dana untuk Arema

Kondisi kritis finansial yang menimpa tim Arema Indonesia membuat pendukung Aremania melakukan pengumpulan dana Rp 10 ribu di sejumlah tempat keramaian Kota Malang, Jawa Timur. Koordinator penggalangan dana Aremania, Yuli Sumpil, mengatakan, aksi pengumpulan dana itu dilakukan di Stasiun Besar Kota Malang, Jalan Tugu, Balai Kota, serta di Alun-alun Kota Malang.

“Pengumpulan dana bertajuk “Gerakan 10 Ribu Aremania untuk Arema” ini bertujuan sebagai bentuk empati Aremania terhadap kondisi terkini tim Arema Indonesia,” ujarnya. Pengumpulan ini, meski kecil diharapkan mampu membantu finansial tim Arema Indonesia dalam melanjutkan Indonesia Super League (ISL).

Dana yang terkumpul tersebut di gunakan untuk membeli papan iklan(a-board) seperti pada laga derbi D’Ngalam antara Arema vs Persema Minggu,10 Januari lalu, pada laga tersebut antusiasme Supporter sangatlah tinggi meskipun di siarkan langsung oleh station TV Nasional.

Alhasil, dengan dukungan yang luar biasa tersebut pasca krisis dan ancaman mundur, Arema Indonesia berhasil memegang rekor tak terkalahkan atas Persema, kemenangan 3-1 semakin mengukuhkan posisi mereka di puncak klasemen Liga Indonesia.

Derbi Jatim Vs Persebaya dan kemerdekaan Aremania

PT Liga Indonesia memastikan laga bigmatch Derby Jatim antara Persebaya Surabaya menghadapi Arema Indonesia, Sabtu (16/1) akan disiarkan langsung televisi.

Sebelumnya manajer Persebaya, Saleh Mukadar, menolak siaran langsung dengan alasan khawatir menurunnya animo penonton yang datang langsung ke stadion.

Kickoff Persebaya vs Arema dimajukan dari awalnya pukul 19.00 wib menjadi 15.30 wib dengan alasan ijin dari pihak keamanan.

Dalam surat yang ditandatangani CEO PT Liga Indonesia (PT LI) Joko Driyono, bernomor 128/JD/AK-078/2009, PT LI memastikan laga Persebaya vs Arema disiarkan langsung.

Jadwal Siaran Langsung
Pertandingan: Persebaya Surabaya vs Arema Indonesia
Hari/tanggal: Sabtu, 16 Januari 2010
Jam kickoff: 15.30 wib
Stasiun televisi: ANTV

Bagi Aremania di Malang Raya, akan diadakan acara nonton bareng di Universitas Merdeka Malang, Sabtu (16/1).

Pada Sabtu siang, Aremania juga berencana melakukan konvoi untuk merayakan “hari kemerdekaan” untuk memperingati hari bebasnya hukuman dua tahun dari Komdis PSSI.

Sementara itu pada Rabu (13/1) siang kemarin, Aremania menandatangani kesepakatan di di hadapan Kapolres Malang, Drs Andhi Hartoyo MSi untuk tidak berangkat ke Surabaya pada  derby Persebaya vs Arema akhir pekan ini.

Aremania juga telah membuka pendaftaran Tour Lamongan untuk mendukung Singo Edan menghadapi Persik Kediri di Stadion Surajaya, 20 Januari. Pendaftaran di Stasiun Kotabaru Malang, dengan akomodasi Rp 45.000 dan kuota lima ribu tiket.
Selamat datang Aremania di Liga Indonesia ke 2, semoga kreatifitas akan kembali kalian hadirkan di persebak bolaan Indonesia, Salam Satu Jiwa – AREMA.
(Hendy Prima) Sumber: Cak Nun, Ongisnade,

Musim ini, Arema mencatat rekor away terbaik di Liga Super, yakni empat kemenangan dalam enam pertandingan.

Namun dalam laga away terakhirnya, Arema kalah 0-1 dari Persela Lamongan yang merupakan kekalahan satu-satunya Arema musim ini.

Arema juga tercatat sebagai tim dengan pertahanan terkuat, yakni baru kemasukan empat gol dalam 13 pertandingan, masing-masing dua di kandang dan dua tandang.

Hasil pertandingan away Arema:
16 Desember – vs Persela Lamongan (0-1) KALAH
12 Desember – vs Persijap Jepara (1-0) MENANG
2 Desember – vs Pelita Jaya (2-0) MENANG
28 November – vs Persitara (0-0) IMBANG
25 Oktober – vs Persisam Samarinda (0-1) MENANG
22 Oktober – vs Bontang FC (1-2) MENANG

Musim ini, Arema mencatat rekor away terbaik di Liga Super, yakni empat kemenangan dalam enam pertandingan.

Namun dalam laga away terakhirnya, Arema kalah 0-1 dari Persela Lamongan yang merupakan kekalahan satu-satunya Arema musim ini.

Arema juga tercatat sebagai tim dengan pertahanan terkuat, yakni baru kemasukan empat gol dalam 13 pertandingan, masing-masing dua di kandang dan dua tandang.

Hasil pertandingan away Arema:
16 Desember – vs Persela Lamongan (0-1) KALAH
12 Desember – vs Persijap Jepara (1-0) MENANG
2 Desember – vs Pelita Jaya (2-0) MENANG
28 November – vs Persitara (0-0) IMBANG
25 Oktober – vs Persisam Samarinda (0-1) MENANG
22 Oktober – vs Bontang FC (1-2) MENANG

Categories: aremania, Headline Tag:

Aremania beli a-board Panpel Arema

Supporter – Laga Derby d’Ngalam menjadi laga istimewa dalam Indonesia Super League (ISL) musim ini. Dari segi, bisnis laga itu menjadi magnet di pentas nasional terbukti dengan disiarkan televisi nasional secara live. Dalam hukum ekonomi sudah barang tentu animo di tingkat lokal lebih luar biasa lagi, terbukti dari laris manisnya board iklan. Read more…

Categories: aremania Tag:

Aremania membuat Along Bangga

Along usai derbi d"Ngalam

Supporter – Mencetak Goal melalui tendangan salto merupakan salah satu ciri khas yang harus di miliki pemain depan, Noh Alamsyah(super along)pun juga bisa melakukan hal tersebut, kemaren Malam,10 Januari 2010 ia mencetak goal pertama bagi Arema, ya pertama,dalam arti goal yang ia cetak bukan melalui tendangan pinalti seperti yang biasa ia lakukan saat Arema mendapat hadiah tendangan pinalti, tendangan berkelas yang membuat Ribuan Aremania bergemuruh pada menit 20 yang sebelumnya terdiam karena Goal pertama pada menit ke 15 oleh pemain Persema Jairon Feliciano. Read more…

Categories: aremania Tag:

Harga tiket naik tak pengaruhi Aremania

Supporter – Karena kondisi finansial PT. Arema Indonesia yang tidak stabil akhir-akhir ini terpaksa management menaikkan harga tiket dari Rp.15.ooo untuk ekonomi ke Rp.25.000(termasuk sumbangan Rp.5000)tiket VIP biasanya Rp 50.000 naik menjadi Rp 75.000, dan harga tiket VVIP Rp 100.000 per orang.Tidak menyurutkan Aremnia untuk datang ke stadion Kanjuruhan.

kapasitas stadion yang berjumlah 40.000 penonton sampai penuh sesak dan meluber hingga sentle ban Stadion Kanjuruhan Malang, pada laga derby Jatim[Malang] antara Singo edan melawan Laskar Ken Arok pada Minggu (10/1/2010).

Pada pertandingan krusial tersebut adalah pertama kali di Liga Indonesia dimana Supporter menyewa iklan papan (board) di sekeliling lapangan permainan dan iklan dinding di tembok dalam stadion. Setidaknya ada 42 iklan papan yang mengitari lapangan membentuk huruf U, dan 17 iklan dinding yang tertempel di tembok dalam stadion.

Tembok ini biasanya dijadikan tempat memasang spanduk dan atribut dukungan dari suporter. Namun pada laga kali ini diisi oleh iklan. Yang menarik lagi, pemasang iklan papan di sisi lapangan bukan hanya dari perusahaan-perusahaan swasta, namun juga dari dua kampus di Malang (IKIP Budi Utomo dan Unmer Malang), serta dua iklan yang dipasang oleh Aremania (suporter Arema).

Iklan yang dipasang hasil dari sumbangan Aremania tersebut bertuliskan: support Arema Indonesia dan Save Arema Indonesia-Aremania-lets kick racism from football. Aremania menggalang dana untuk membantu Arema yang saat ini tengah mengalami krisis keuangan.

Categories: aremania Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.