Arsip

Arsip untuk Februari, 2010

Jelang Persipura Vs PSM, Kedua team jajal Stadion

Supporter – Tuan rumah Persipura dan tim tamu PSM Makassar bakal menggelar uji coba lapangan Stadion Mandala, Jayapura, Jumat (26/2) pagi ini. Persipura mendapatkan jadwal uji lapangan pada pukul 07.00 WIT, sedangkan PSM jam 09.00 WIT.     Menurut Pelatih Persipura Jacksen F Tiago, timnya memang memilih uji coba dan latihan pagi setelah sempat mengalami kelelahan pascakekalahan 4-1 dari Jeonbuk Motors di pentas Liga Champions Asia di Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (24/2).

“Kami sempat istirahat sehari setelah pertandingan Liga Champions, dan sehari kemudian baru melakukan uji lapangan. Karena itu kami pilih pagi hari. Momen yang tepat setelah kami istirahat,” kata Jacksen.
Sedangkan PSM juga memilih uji coba lapangan pagi. Ketika dikonfirmasi Tribun, Asisten Manajer PSM Bidang Perlengkapan Faisal Maming, Handi Hamzah dkk akan melakukan uji lapangan pada pukul 09.00 WIT.
“Kita sengaj pilih pagi agar bisa segera memulihkan kondisi. Selain itu kta tidak perlu tergesa-gesa karena kita masuk setelah Persipura,” kata Faisal Maming di Hotel Yasmin, Jayapura..
Selain uji coba lapangan, kedua manajer atau perwakilan tim juga dijadwalkan mengikuti technical meeting. “Soal itu, kita dinformasikan pihak panitia lokal setelah uji coba. Siang hari baru dilakukan technical meeting,” tambahnya.

Categories: news Tag:,

Perang Bintang Pemain Liga Super Indonesia

Supporter – PT Liga Indonesia akan mengadakan Perang Bintang dari para pemain terbaik liga Indonesia pada Juni mendatang. Rencananya, perang bintang ini akan digelar pada 7-9 Juni mendatang di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Perang bintang sendiri merupakan pertandingan yang akan mempertemukan para pemain pilihan dari kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim ini. Gabungan pemain dari dari wilayah barat akan bertemu dengan wilayah timur.

Wilayah barat, akan diwakili pemain yang dipilih dari PSPS Pekanbaru, Sriwijaya FC, Persija Jakarta, Persitara Jakarta Utara, Persib Bandung, Pelita Jaya, Persiba Balikpapan, Bontang FC, dan Persisam Samarinda.

Sedangkan wilayah Timur akan diwakili Persijap Jepara, Arema Malang, Persik Kediri, Persela Lamongan, Persebaya Surabaya, Persema Malang, PSM Makassar,Persipura Jayapura,dan Persiwa Wamena.

Perang bintang ini akan diikuti 44 pemain yang berasal dari kedua wilayah itu. Pemilihan pemain akan berdasarkan polling sms terbanyak dari masyarakat Indonesia.

[kcm]

Categories: Pemain Tag:, , ,

Dinamika Sepak Bola Tanpa Batas

Supporter – Olahraga sepak bola merupakan olahraga yang paling digandrungi dialam jagad raya ini. Meskipun tema diatas adalah tentang sepak bola, akan lebih realistisnya jika penulis mengupas dari segi global yang sedang dialami oleh bangsa kita saat ini. Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang penulis yakini semua pasti bisa melakukannya. Akan tetapi kita sadar dengan apa yang dikatakan oleh filsuf lama yaitu ”serahkanlah sesuatu pada ahlinya”. Dengan ini hemat saya, kita dituntut untuk menyadari bahwa yang ahlilah yang dapat memainkan olahraga sepakbola dengan sebaik – baiknya. Dan yang tak kalah pentingnya pada kalimat filsuf diatas harus diadakan dalam tataran pengurus PSSI.

Sekarang sepak bola kita (Indonesia), sedang mengalami masa transisi dari kegelapan menuju keterangan. Ketika kita terngiang melihat dan mendengar sponsor dilayar televisi yang mengatakan, ”kapan Indonesia bisa masuk piala dunia?”. Kita pasti merasa sedih, gundah dan mungkin akan semakin semangat untuk terlecut menggapainya. Akan lebih realistis jika penulis khususnya dan pembaca umumnya melihat realitas yang sedang dialami oleh sepak bola kita sekarang, artinya akan lebih ngejreng bila kita melihat kedalam dari dalam wajah persepak bolaan Indonesia.

Indonesia yang konon katanya kaya akan hasil alamnya dan luas wilayahnya memilih dari sebelas orang untuk mengisi line-up starter untuk mengisi barisan kesebelasan merah putih sangat sulit. Ini disebabkan oleh ogoisme para petinggi bola kita, (sebut saja PSSI), yang cenderung hobi melakukan pembinaan pemain instan.     Alih – alih melakukan regenerasi pemain, PSSI malah ingin mengadopsi pemain asing. Kapan sepak bola kita (Indonesia) akan maju dan berjaya bila yang dibina pemain dari negara lain.

Pembinaan pemain instan PSSI, dapat kita lihat pada timnas U-23, yang dikirimkan ke Belanda pada tahun 2007 lalu. Timnas U-23 yang diproyeksikan untuk mengikuti kejuaraan Sea Games Qatar, disekolahkan sepak bola dinegara Belanda. Selama kurang lebih enam bulan timnas U-23 berada di negara Belanda tersebut. Pengiriman yang konon merogoh kocek sebesar 20 M tersebut, memang tampil bermain di Sea Games Qatar, namun hasil nihilistis dan mengecewakan yang lagi – lagi harus diterima Indonesia. Timnas U-23 yang harus menelan pilpahit dengan dihajar Iran 6 gol tanpa balas, dan yang tak kalah mengecewakannya adalah tak satu golpun yang dapat disarangkan oleh pemain Indonesia U-23 pada waktu itu.

Selain pembinaan pemain secara instan, PSSI juga tidak serius dan komitmen untuk memajukan sepak bola kita. Ketidak seriusan dan ketidak komitmenan ini dapat kita lihat pada sistem liga yang berubah – ubah, pembinaan pemain muda instan, tentang kuota pemain asing, jumlah tim peserta ,dan jadwal yang tidak pasti.

Awal mula Liga sepak bola Indonesia adalah Perserikatan dan Galatama. Dari Perserikatan dan Galatama tersebut kemudian PSSI melebur menjadi satu dan mengememasnya menjadi Liga Indonesia. Tidak berhenti disitu, PSSI pun merubah format Liga dengan sistem dua wilayah. Sistem dua wilayah tersebut hanya dapat bertahan seumur jagung, dengan menghadirkan sistem Liga satu wilayah kembali Disisni PSSI seolah – olah mencari format yang ideal untuk persepak bolaan Indonesia.  Dikemudian hari PSSI dituntut untuk membentuk suatu badan hukum dalam ranah sepak bola oleh badan tertinggi sepak bola dunia yaitu FIFA, tak khayal PSSI lalu membentuk satu tingkatan Liga lagi yang kita kenal sekarang dengan sebutan Indonesia Super Ligue (ISL).

Sepak Bola dan Gemuruh Politik Indonesia

Disadari atau tidak dalam ranah sepak bola bukan hanya di negara kita (Indonesia), warna – warna politik telah mengontaminasinya. Sebut saja pada Italia. Negara pizza yang tahun 2006 kemarin telah berhasil menjuarai piala dunia di Jerman. Prestasi yang diraih Italia tercoreng dengan skandal calciopolli (pengaturan skore) yang menerpa liga serie A Italia. Tak khayal peristiwa tersebut membuat Franco Carraro presiden  FIGC (PSSI nya Italia), mengundurkan diri dari jabatannya. Ironis memang jika kita melihat apa  yang terjadi di Indonesia. Jelas – jelas sudah terganjal skandal korupsi, sang pemimpin tidak mau legowo mengundurkan diri. Alih – alih mengundurkan diri, diminta mundur dan sudah jadi pesakitanpun masih ngotot ingin memimpin.

Mahatma Gandhi memanifeskan bahwa ” sesungguhnya alam raya ini mampu memenuhi setiap kebutuhan manusia, akan tetapi tidak dengan kerakusannya”. Memotret lalu memajang didepan cermin kita tentang manifesto Mahatma Ghndahi, memang perlu gunanya untuk intropeksi diri dalam hal tersebut. Namun apakah konyol kiranya bila kita bertanya pada Mahatma Ghandi dengan pertanyaan ”bagaimana kalau kerakusan dalams  ranah – ranah kekuasaan ??”

Italia tetap Italia, mereka tetap memiliki prestasi tersebut. Negara konflik seperti Pantai Gading dan negara miskin macam Togo, masih bisa berprestasi di piala dunia. Negara kita (Indonesia) yang konon katanya negara luas wilayahnya dan kaya akan penghasilan alam, memilih sebelas orang dari sekian ribu juta jiwa penduduknya guna mengisi line-up skuad tim merah putih (sebutan Timnas sepak bola kita) masih sulit kenyataannya.

PSSI Harus Intropeksi Diri.

”Serahkanlah sesuatu pada ahlinya”, itulah suara filsafat moral. Selain dari tataran pemain seharusnya dari tataran pengurus PSSI dan stakeholder (pihak – pihak terkait) harus sadar diri. Mereka tidak boleh mengedepankan kepentingan – kepentingan pribadi (vested interes private), maupun kepentingan golongan. Pemimpin PSSI pun tidak harus dari golongan kader partai. Yang terjadi sekarang PSSI telah terkontaminasi oleh                 golongan – golongan yang tidak tahu tentang sistem – sistem sepak bola. Kapan sepak bola kita akan maju bila stakeholder (pihak – piha terkait) bukan seorang yang tahu tentang sistem sepak bola.

PSSI membutuhkan seorang pemimpin yang tidak harus jebolan kampus besar maupun seorang kader partai. Sekarang PSSI membutuhkan orang – orang yang profosionalis dan mengerti sepakbola lebih-lebih mau berkorban untuk PSSI. Bukan malah mengorbankan PSSI. Publikpun rindu kesebelasan Indonesia mengangkat tropi piala terlebih mengikuti piala dunia.

Jangankan masuk piala dunia, kita (Indonesia) sudah ketinggalan jauh oleh negara tetantgga seperti Thailand, Singapura, Malaysia dan Vietnam yang dulu menimba ilmu sepak bola pada negara kita. Maka tak pelak muncullah guyonan publik ”dari segi prestasi jeblok, dari  segi suporter bentrok dan katrok!!!!”

Visi sepak bola Indonesia menuju industri tahun 2020 yang diusung oleh pengurus periode baru, periode 2007-2011 sulit tercapai jika PSSI masih tidak konsisten dalam melakukan pembinaan pemain muda dan melaksanakan kompetisi Liga Indonesia dengan baik.

Pembinaan Pemain Instanisme PSSI

Sedap dan enak rasanya. Itulah tawaran yang ditulis oleh salah satu produk makanan, dinegara kita. Namun penulis disini tidak bermaksud untuk turut mensponsorkan iklan makanan tersebut. Akan lebih ngejrengnya penulis mengajak untuk melihat program instanisme yang telah hadir dalam pembinaan pemain muda oleh PSSI.

Pandangan penulis masih melekat tentang pengiriman timnas primavera ke Italia, untuk menimba ilmu sepak bola, namun dalam cacatan penulis dan mungkin pembaca sekali lagi nihilistis yang didapat. Tidak berhenti pada pengiriman timnas primavera ke Italia, dalam cacatan buku penulis masih terjadi pengiriman – pengiriman instan yang lain yaitu pengiriman pemain Timnas Primavera disusul dengan pengiriman yang kali ini berlabel timnas Garuda I dan timnas Garuda II. Hasil dari program itupun tak jauh beda dari hasil – hasil progam pembinaan instan diatas.

Kenapa Harus Guss Hiddink??

Rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput kita”, konon pepatah mengatakan. Namun pepatah tidak mengharuskan kita untuk mengadopsi semua dari  kata – kata patahnya. Dalam cacatan penulis telah tertulis bahwa tahun 2022 seorang taktician (baca pelatih) bertangan dingin asal Belanda yaitu Guss Hiddink, diminta oleh salah satu petinggi di negeri kita untuk menyentuhkan tangan dinginnya ke dalam sepak bola Indonesia. Respon positif memang didapat oleh publik, dengan sudinya Guss Hidink memoles timnas merah putih. Guss Hidink diyakini seorang pelatih yang mempunyai hoki dalam kariernya. Itupun tak lepas dari torehan Hidink yang berhasil membawa Korea Selatan ke semi final piala dunia 2002 lalu. Karier hoki Guss Hidink tak berhenti di Korea Selatan, tangan dingin Hidink kembali ikut andil membawa negara kangguru (Australia) ke perempat final piala dunia 2006 Jerman. Sungguh disayang Australia harus angkat koper lebih dulu, atas keputusan kontrofersial wasit yang menghadiai tendatang jarak 12 pas (tendangan pinalti) kepada Italia. Tactician kelahiran Belanda tersebut juga mampu membawa negara Beruang Putih (Rusia) ke semi final Euro 2008 Swis – Auastria lalu. Tak tanggung – tangguung ke profisionalan Hidink pun mulus teruji dengan menjungkalkan tim asal kelahirannya yaitu Belanda pada babak perempat final. Padahal Belanda yang digadang – gadang sebagai salah satu kandidat kuat juara pada kejuaraan empat tahunan yang diikuti oleh negara – negara benua biru (Benua Eropa) pada waktu itu. Sayang anak asuh sitangan dingin (Guss Hidink), terhenti oleh tim matador Spain yang pada waktu itu menjadi juara Euro 2008.

Torehan prestasi tersebutlah yang mungkin membuat salah satu petinggi negara kita kepincut oleh sosok seorang Guss Hidink. Namun kenapa harus Guss Hidink?? Apakah negeri ini sudah kehabisan stock bahkan mungkin tidak punya stock pelatih (tactician) seperti Guss Hidink?. Memang kita sadar saat ini Indonesia belum memiliki tactician (pelatih) sekaliber Guss Hidink. Namun kita harus yakin dan tidak menutup kemungkinan bisa mencetak embrio – embrio sekaliber Guss Hidink. Jalannya tak lain adalah memberikan kepercayaan terhadap pelatih lokal. Dan prestasi yang telah ditorehkan oleh Guss Hidink tidak sepenuhnya dapat kita jadikan barometer suatu keberhasilan.

Timnas sepak bola kita tak jarang dilatih oleh couch (pelatih) asing. Namun hanya Tony Pogacknik dalam cacatan penulis yang dikira timnas kita pernah mengukir prestasi. Pasca hengkangnya Tony, hanya sensasi pelatih asinglah yang dilakukan oleh PSSI. Dan akhirnya penulis dengan berat hati, namun ringan tangan memilah lalu memilih sepenggal kalimat Eros Chandra yaitu ”mengapa harus hitam bila putih menyenangkan”.

Retorika Pencalonan Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia 2022.

Issue bahwa Indonesia mencalonkan sebagai tuan rumah piala dunia 2022 sudah terdengar santer publik. Mudah – mudahan pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah  tersebut dapat tercapai. Dengan singkat, jelas, padat dan  juga hebat bila melihat Indonesia berlaga di piala dunia. Bayolan ”kapan Indonesia bisa masuk piala dunia” tahun 2022 jawabannya, apabila Indonesia benar – benar menjadi tuan rumah piala  tahun 2022 mendatang. Mengapa tidak, atauran bahwa tuan rumah mendapat tiket lolos otomatis akan didapat Indonesia.

Lebih cepat lebih baik, bumi semakin tua, artinya mengapa harus menunggu tahun 2022. Indonesia saat ini sangat – sangat merindukan kesebelasan merah putih mengangkat tropi piala. Singkat kata, kita jangan sampai terbawa arus euforia tentang pencalonan piala dunia 2022, kita harus melipat sembari membuka dan kemudian  mengeja. Maksudnya adalah agenda yang harus kita prioritaskan adalah membangun jatidiri bangsa melalui prestasi sepak bola. Tahun 2022 akan kita tunggu kedatangannya dengan persiapan – persiapan yang matang. Pembangunan – pembanguna sarana dan prasarana sepak bola harus dimulai detik ini. Indonesia akan  tersenyum apabila  timnasnya mengukir prestasi. Pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah piala dunia 2022 itu hal lain, Indonesia akan mencuri deadlin bila mana timnasnnya dapat bermain bagus.

Munculnya issue pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah piala dunia 2022, kita tahu bertepatan dengan moment perebutan kursi kasta tertinggi di negri kita  (Pilpres 2009). Sadar saya, mungkin tidak sedikit masyarakat tahu dibalik semua itu. Akhirnya penulis mengharap kepada semua element bangsa mendukung hal – hal tersebut. Dan coretan klimaks penulis (Bravo Timnas Merah Putih ku !!).

Kau Yang Tak Mau Memberi Mampuslah Kau Ditikam PSSI !!

Kau yang tak mau memberi mampuslah kau ditikam sepi” (Khiril Anwar). Namun ijinkanlah penulis ini memberi mandukasi spesifik terhadap sepak bola Indonesia dengan sepenggal kalimat ” kau yang tak mau memberi mampuslah kau ditikam PSSI”. Pendek kata, kita akan selalu di anjurkan untuk memberi dari banyak segi terhadap sepak bola kita, lebih – lebih saranisme, motifasisme, apresiasisme, dan bila perlu me – me yang lain. Sudah tertulis diatas bahwa sepak bola kita (Indonesia) sedang mengalami           masa – masa transisi gelap menuju terang. Bilamana kegelapan tersebut tiada seruan nurani yang sudi melenterai, maka jalan keteranganpun akan sulit tercapai

Wajah  Suporter Sepak Bola Indonesia.

Perminan sepak bola bersifat timbal balik. Dengan sifatnya terebut jelas sepak bola tidak bisa dimainkan sendiri. Dalam prakteknya, sepak bola merupakan interaksi dua pihak yang saling berlawanan dala suatu permainan untuk merebutkan hadiah tertinggi, yaitu kemenangan. Kehadiran suporter memang diakui banyak membantu untuk sebuah tim. Suporterpun dikenal dengan sebutan pemain ke dua belas. Keberadaan pendukung atau suporter merupakan salah satu pilar penting dalam sebuah pertandingan sepak bola, agar suasana tidak terasa hambar dan tanpa makna. Keberadaan suporter dapat menjadikan energi tambahan (doping) untuk para pemain untuk memperoleh kemenangan demi kepuasan parqa suporter atau pendukungnya.

The game isn’t the game without its suporters ……. keberadaan suporter telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah kesebelasan. Suporter hadir dalam suatu arena pertandingan dengan tujuan untuk mendukung tim kesayangan mereka. Mendukung mental dan moral dan sekaligus meneror mental tim lawan. Ketika dua kelompok suporter ini bertemu disebuah arena pertandigan dengan tujuan yang sama namun berbeda tim yang didukung, maka yang terjadi adalah pertentangan, perang yel-yel, saling ejek dan lain-lain. Dan tidak menutup kemungkinan suasanapun akan menjadi kisruh. Dalang urgent kekisruhan sebenarnya dipacu oleh tidak pusnya pendukung terhadap, peformen pemain, wasit yang dituduh tidak adil, yang berujung dengan kekalahan tim kesayangannya.

Bila dicermati, dari suporter tersebut, suporter – suporter yang memiliki karakter keras dan cenderung bertindak anarkis sebagain besar adalah suporter ynag berasal dari kota. Karena dalam masyarakat perkotaan yang cenderung hidup secara individu kriminalitas dan pengangguran, maka konsep solidaritas mereka belum tertata dengan bagus, sehingga suporter – suporter kota menjadi ganas dan mudah terpancing emosinya.(Wahyudiyono 2004)

Parahnya dari segi ekonomi, pendidikanpun mereka merasa termarjinalkan. Sebenarnya mereka juga merasa bagian dari masyarakat yang ingin teraktualisasi. Disini mereka menjadikan stadion sebagai tempat menumpahkan permasalahan tersebut (Dwi W. Prasetiono).

Machiavelli pernah mengatakan bahwa, kekerasan menjadi absah untuk mempertahankan ancaman dan dapat dipraktekkan oleh penguasa. Mungkin sepak bola sedang menuju ke arah teori ini. Manakala sebuah tim kesayangan mereka mendapat perlakuan tidak adil, spontan saja amuk para pendukungnya menghiasi dan seakan – akan melengkapi manisnya pertandingan. Dalam hal ini belum lagi bila sebuah tim memiliki suporter yang fanatik, hampir dipastikan stadion berubah menjadi lautan amuk masa bila tim kesayangannya kalah atau mendapat perlakuan yang tidak adil.

Dalam cacatan penulis masih ingat di benak pikiran kita pada peristiwa  kerusuhan pada saat perempat final Copa Indonesia pada tanggal 4 september 2006. pendukung Persebaya yang mengatasnamakan Bonekmania mengamuk karena kecewa atas hasil timnya yang ditahan oleh Arema Malang dengan skore 0-0 (sebenarnya pertandingan masih tersisa sekitar 5 menit). Persebaya membutuhkan hasil keunggugulan minimal 2-0, karena pada leg pertama kalah 0-1 dari Arema di Malang. Kekecewaan Bonekmania kemudian dilampiaskan dengan melempari para pemain kedua kesebelasan dan merusak berbagai fasilitas stadion serta menyerang polisi yang sebenarnya berusaha menenangkan keadaan atau mereka. Selain itu, tiga mobil termasuk mobil salah satu stasiun telivisi swasta yang kebetulan sedang meliput pertandingan tersebut rusak diamuk masa. Peristiwa kerusuhan inipun terkenal dengan sebutan ”Asu Semper” (amuk suporter empat September)

Kecintaan yang lebih adalah faktor dari hampir semua itu. Kekhasan untuk menggambarkan manusia dalam persepektif cinta memberikan kesan filosofi yang mendalam bahwa kehidupan seni mencintai (the art of loving). Maka dengan cinta manusia sangat mengerti sifat dasar manusiawinya, yaitu letaknya sebuah kasih sayang. Dan sebaliknya, dengan cinta pula manusia berubah menjadi sadis, ambisius, dan bahkan mematikan (Bambang, 2006 SBTB)

Sepak Bola Dan Multikulturalisme

Pengaruh sepak bola terhadap aktifitas manusia begitu besar. Perhelatan sepak bola seperti Piala Dunia dan Piala Eropa membuat seluruh sendi kehidupan berhenti dan seakan-akan tertuju hanya pada sepak bola. Tidak heran, pakar psikologi sosial dan para antropolog luar negeri menyebut Piala Dunia dan Piala Eropa sebagai ”tribalisme modern” yakni sebuah peperangan antar suku pada masa lampau yang terjadi di abad modern. Setiap bangsa (terutama peserta ajang Piala Dunia dan Piala Eropa) berperang dan bersaing untuk menjadi yang terbaik. Tingkah laku purba(tribal behaviour) yang pali g tampak selama ritus soccer tribe mencul dikalangan penggemar setiap kontestan. Mereka mengecat wajah dengan warna bendera kebangsaan, memakai replika kostum timnas, mengibarkan berbagai bendera dan atribut, serta bersorak dan bernyanyi-nyanyi (Erwin, 2006)

Sepak bola tidak lagi sekedar pertandingan 2 X 45 menit (plus extra time dan adu pinalti), tetapi sepak vola telah memberikan pelajaran terhdap refleksi kemanusiaan kita. Olahraga rebutan bola ini sukses mengobrak – abrik sekat sosial, kultural, etnis, agama, ideologi, dan negara.

Sebelumdekade 1990_an, terjadi pembagian secara rasial (streotipe rasia) mengenai atlitisme dan intelegensi dalam pengaturan posisi pamain sepak bola. Pemain sepak bola diatur kledalam posisi

’sentral” atau menjadi tulang punggung tim seperti penjaga gawang, sweeper (penyapu), midfield playmaker (penagtur irama permainan), dan straiker (penyerang). Posisis – posisi tersebut membutuhkan kecerdasan sehingga dapat membentuk pola permainan yang bagus atau sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan tim. Posisi ini selalu diisi oleh pemain kulit putih yang dianggap mempunyai kecerdasan dalam membentuk pola permainan. Sedangkan pemain kulit hitam cenderung diatur untuk mengisi posisi peripheral (full back atau  back, dan winger pemain sayap), karena kepercayaan rasial pelatih mereka. Pemain kulit hitam dianggap mempunyai intelgensi rendah. Mereka tidak dapat menandingi kecakapan pengambilan keputusan atau konsistensi pemain kulit putih, meskipun kecepatan dan gaya tak teramal mereka sangant esensial di sayap.

Namun kini pembagian posisi pemain  secara rasial tidak berlaku lagi. Negara-negara yang sejatinya ras putih kini makin bergantung pada ras berwarna yang dulu menjadi jajahannya. Lihat saja pada tubuh timnas Prancis, Belanda, dan Inggris yang dijejali ras kulit berwarna dengan sosio-kultur berwarna pula. Negara Jepang yang dulu sangat patriotis dengan kemurnia ras mereka, kini mengambil langkah radikal dengan menaturalisasi pemain bola berbakat dari bangsa lain semata-mata demi kepentingan sepak bola juga. Piala Dunia 2006 di jerman menjadi bukti bahwa sepak bola kini sudah tidak mengenal sekat-sekat sosial, kultural, agama, ideologi, negara, dan sebagainya. Piala Dunia 2006 di Jerman menjadi semacam ironi untuk ”menampar” orang-orang yang senang membuat stigma dan hierarki atas nama kasta, ras, ideologi, dan agama.

Jerman, yang merupakan bangsa keturunan ras Arya, pada masa perang dunia menganggap ras mereka adalah ras yang paling besar dan paling unggul dialam raya ini. Keangkuhan Hitler menyebabkan bangsa tersebut ingin menghancurkan ras lain yang ada di alam raya ini. Namun dewasa ini sepak bola mampu mengubah segalanya. Jerman tidak lagi angkuh seperti dahulu kala. Piala Dunia 2006 menyajikan Jerman yang ramah dan multikultur. Jerman menyambut dengan baik semua orang dari berbagai negara, idoilogi, ras, etnis dan agama. Bahkan dalam tubuh timnas Jerman terdapat juga pemain kulit berwarna hitam, yaitu Gerald Asamoah (pemain kelahiran Ghana). Dalam hal itu juga terjadi dibeberapa negara peserta Piala Dunia 2006. di Asia, Jepang yang terkenal sangat patriotis dan menjunjung tinggi kemurnia ras mereka, akhirnya juga dihuni pemain asal Brasil, yaitu, ”Alex” Santos. Pemain kelahiran 20 Juli 1977 tersebut, memilih memperkuat timnas Jepang sejak tahun 2002. Sejak 1997, ia memperkuat klub setempat Shimizu S. Pulse. Italia yang tampil sebagai pemenang di Piala Dunia 2006 Jerman pada waktu itu juga diperkuat oleh Mauro Camoneresi, pemain tengah Juventus yang senyatanya berdarah negara Argentina.

Hemat saya, prancis-lah wajah nyata multikulturalisme sepak bola. Proses sosial menuju mmasyarakat multikultur di Eropa menemukan bentuk paling nyata di negara Menara Eifel tersebut berada. Pilar yang paling diandalkan didalam tubuh timnas Les Bleus Prancis justru pemain berdarah Aljazair, yaitu Yazid Zinedine Zinane. Pasukan Prancis lainnya juga dihunin oleh barisan kulit berwarna, yakni Patrick Veira yang berdarah Senegal, Lilian Thuram (kelahiran Guadeloupe), dan juga Thiery Hendry (yang orang tuanya sejatinya berasal dari Guadeloupe-Martinique), untuk sekedar menyebut nama. Denyut jantung tim polesan Raymond Domenech tersebut terletak pada anggota tim dari kultur dan ras yang tidak seragam (Erwin, 2006)

Dari berbagai uraian diatas, melalui sepak boal kita dapat belajar bahwa perbedaan kultur bukanlah suatu ancaman yang berbahaya. Justru dalam hal tersebut dapat menjadi modal untuk memperkaya sebuah tim. Setiap orang yang berasal dari kultuir, etnis, ras dan agama yang berbeda tentu mempunyai pola pikir dan cara hidup yang berbeda pula. Akan tetapi, karena perbedaan tersebut itulah, kita semua saling mengetahui tempatnya masing-masing dan saling mengharmati.

Sportifitas sepak bola dapat dimaknai juga dengan sikap inklusif, tidak hanya pemain tetapi juga steakholder (pihak-pihak yang terkait) mulai dari pelatih, penonton, wasit dan lain –lain. Artinya, sepak bola mengajarkan kepada kita untuk menghilangkan segenap etnosentrisme, fanatisme sempit (buta) dan eksklusivisme sempit !!

Manchester United (MU) dan Timnas PSSI AllStar. MAU?

Seandainya pada waktu itu hotel JW. Marriot dan hotel Rilz Charlton tidak hancur oleh bom, mungkin masyarakat Indonesia bisa menyaksikan bagaimana punggawa-punggawa tim PSSI Allstar, melawan tim setan merah (the red devil’s) Manchester United .

Sayang beribu sayang pada tanggal 17 Juli 2009, tak dinyana bom meledak dan menghancurkan hotel yang konon akan digunakan sebai persinggahan club asal Negri kincir angin (Inggris) tersebut. Dampak dari ledakan bom tersebut, memaksa Manchester United, urung menjajal tim PSSI Allstar. Namun apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, MU juga batal datang ke Indonesia. Yang harus dilakukan oleh bagsa kita (Indonesia), saat ini adalah  bagaimana cara membangun bargaining power atau nilai tawar, dengan tujuan mendatangkan kembali kepercayaan dimata Internasional.

Namun pihak Manchester United, menyatakan Indonesia adalah Negara pertama yang diprioritaskan sebagai lawatannya di Asia pada tahun 2011 mendatang. Hemat saya bangsa kita harus gegas bersiap mulai dari sekarang untuk menyambut kedatangan club berjuluk setan merah tersebut. Budi bermain bola, itulah kata-kata ketika kita melihat iklan dilayar kaca televisi dimana pemain-pemian MU sebagai bintang iklannya. Pasca meledaknya bom yang membuat MU batal datang ke Indonesia, maka penulis berpesan “Budi tetaplah bermain bola”.  Ini tak lain adalah sebagai support bagi bangsa Indonesia yang telah mendapat pernyataan dari pihak MU, yang akan menjadikan Indonesia sebagai tujuan utamanya dalam lawatannya ke benua Asia tahun 2011 mendatang.

Dinamika Dalam Sepak Bola.

Sepak bola adalah olahraga yang dimana kita ketahui sebagai olahraga memperebutkan satu bola, dengan tujuan yang sama yakni memenangi sebuah pertandingan. Namun dalam sepak bola tak luput dari tawa dan nestapa. Bagaimana tidak dalam sepak bola kita sering melihat dimana tim yang menang tertawa dan sedangkan yang kalah hanya mengalirkan air mata. Namun setiap pemain pasti tidak mau mengulangi hal-hal yang menyedihkan tersebut terulang kembali. Misalnya kita tahu pada tahun 2004 saat Petric Evra mengeluarkan air mata ketika timnya ketika itu As Monaco dihajar tiga goal tanpa balas oleh FC Porto pada pertandingan final piala Champions. Hal sedih tersebut tidak mau terulang dan Evra berharap rasa tersebut terjadi kepada Jhon Thery pada final berikutnya ketika Manchester United mengalahkan Chelcea, lewat drama adu pinalti pada pertandingan final piala Champions. Sedih yang pernah dialami oleh Petric Evra akhirnya menghampiri Jhon Tery ketika tendangannya dari jarak 12 pas (tendanagn pinalti) melenceng dari arah gawang yang kala itu dijaga oleh Van der Sar. Pada waktu Tery menendang sikulit bundar kaki Tery terpeleset dan akhirnya bolapun melencang kearah kanan gawang padahal posisi Van der Sar sudah terkecoh.

Dari hal diatas kita dapat mengetahui dinamika yang terjadi didalam sepak bola kadang harus mengalirkan air mata dan kadang harus tertawa. Dan juga hal-hal tersebut mungkin pernah dialami oleh setiap pemain sepak bola. Namun saya yakin apa yang telah menimpa para pemain sepak bola tersebut adalah dinamika dalam suatu sepak bola, yang kadang tertawa, suka cita, dan kadang harus duka lara dalam mengarungi suatu pertempuran didalam rumput hijau.

Kegagalan yang telah dialami Tery sa’at gagal mengeksekusi tendangan pinalti, sempat membuat Jhon Tery depresi berat. Ini tak lepas dari ban kapten yang ada di pundaknya. Namun seandainya Tery berdosa dalam kegagalannya tersebut, mungkin Tery boleh menyesal untuk selamanya. Tapi Tery harus melupakan kegagalan tersebut untuk kembali mengarungi lautan lapangan hijau yang sadar mapun tidak terhimpit oleh rasa suka dan duka. Itulah dinamika dalam sepak bola. Namun saya yakin apa yang telah menimpa para pemain sepak bola tersebut adalah dinamika dalam suatu sepak bola, yang kadang tertawa, suka cita, dan kadang harus duka lara dalam mengarungi suatu pertempuran di arena rumput hijau.

(Wahyu Eko Prasetyo/Bolaria)

Categories: Editorial, Jurnal Tag:

AFC : Persiwa Kandas atas tamunya VB Sport Maldives

Supporter – Persiwa Wamena harus mengakui keunggulan tamunya asal Maladewa, VB Sport Maldives di ajang AFC Cup grup G. Bermain di Stadion Gajayana, Malang, Persiwa kalah dengan skor 2-3.

Unggul lebih dulu pada menit ke-10 oleh Lewis Eric Weeks, tim tamu berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke 52 melalui Ashfaq Ali. Persiwa kembali unggul setelah Foday Boakay berhasil menceploskan bola pada menit ke-63.

Tapi sayangnya, keunggulan Persiwa tidak berlangsung lama. Sebab satu menit kemudian, giliran Maldives yang berhasil mencuri gol lewat Abdul Gani. Puncaknya memasuki menit-menit akhir, tim tamu memastikan kemenangan setelah Ali Umar berhasil menjebol gawang Persiwa pada menit ke-88.

Kekalahan ini, diakui pelatih Persiwa, Zaenal Abidin akibat timnya kurang beruntung. “”Kita memang sengaja memainkan bola dari bawah langsung ke tengah jantung pertahanan lawan tanpa memanfaatkan lebar lapangan. Ini strategi kita karena anak-anak kalah dari segi postur pemain. Tapi itu tadi, kita kurang beruntung. Padahal dari segi permainan dan skill, kita lebih bagus,” terangnya usai pertandingan.

Hal ini pun juga diakui pelatih Maldives, Bahtiyar Can Vanli asal Turki bahwa ketiga gol anak asuhannya pada babak dua karena faktor keberuntungan. “Persiwa bermain cukup bagus. Mereka sangat cepat dan lugas. Tapi sayang, mereka sering kedodoran di belakang yang bisa kita manfaatkan,” ujarnya.

Tak ayal, lanjutnya, kemenangan ini adalah modal berharga untuk pertandingan selanjutnya saat Maldives bermain di kandang sendiri. “Poin ini akan menjadi modal berharga bagi kami saat main di Maladewa nanti,” pungkasnya.

Categories: news, Tribun Tag:,

Saktiawan Sinaga Cetak Hattrik

Supporter – Meski sempat tertinggal 1-0 dari tamunya Persela Lamongan, Persik Kediri berhasil mengejar ketertinggalan. Namun akhirnya, Macan Putih berhasil unggul 3-2.

Tiga gol Persik diciptakan oleh striker Saktiawan Sinaga dimenit ke-64, 68 dan 79. Sementara gol Laskar Joko Tingkir memperoleh gol keduanya pada menit ke-68 melalui tendangan Samsul Arif.

Sementara itu, usai membukukan tiga gol untuk timnya yang terancam degradasi, Saktiawan Sinaga harus ditandu keluar karena cidera. Pelatih Agus Yuwono akhirnya memasukkan Suswanto.

Kondisi kurang mengenakkan justru dialami Persela Lamongan, satu pemainnya diusir keluar oleh wasit dengan ganjaran kartu merah setelah melakukan pelanggaran keras terhadap Yongki Ariwibowo berada tipis galis pinalti. Unggul sementara 3-2, Persik terus melakukan penekanan. Hingga pertandingan berakhir, kedudukan tetap tidak berubah

Categories: news Tag:,

ISL : Persebaya Vs Persijap 1-1

Supporter – Setelah dirugikan wasit saat bertemu Arema Indonesia, kini justru Persebaya yang diuntungkan wasit. Sayang, Bajul Ijo justru bernasib sial sebab Persijap berhasil menyamakan kedudukan dua menit jelang pertandingan usai, Rabu (24/2/2010) di Stadion Gelora 10 Nopember.

Keputusan mengejutkan diambil wasit Najamudin Aspiran saat babak kedua baru berjalan satu menit. Wasit asal Balikpapan itu memberikan hadiah penalti kepada Persebaya karena kiper Danang Wihatmoko dianggap melanggar Andi Oddang di kotak terlarang. Anderson yang ditunjuk sebagai eksekutor tak membuang kesempatan, 1-0 Persebaya sementara unggul.

Pada babak kedua ini, Danur melakukan pergantian pemain dengan memasukkan Supriyono dan menarik Mat Halil. Masuknya Supriyono membuat sektor kiri Bajul Ijo lebih hidup. Sedangkan tertinggal satu gol membuat Persijap bermain lebih menyerang. Duet Eki Nurhakim dan Pablo Frances membuat Anderson da Silva cs kerepotan. Apalagi keduanya terkenal punya kecepatan.

Bermain dibawah form, Danur juga menarik John Tarkpor dan memasukkan Josh Mauire. Nampaknya Tarkpor tidak terima atas pergantian itu. Ketika ditarik dia langsung nglonyor ke ruang ganti pemain. Tanpa Tarkpor, serangan Persebaya lebih hidup. Berulang kali gawang Persijap terancam melalui aksi Andik Vermansyah dan Andi Oddang.

Meski banyak mendapat peluang emas, namun Persebaya tak kunjung menambah gol. Hingga pertandingan babak kedua berjalan 30 menit, skor masih 1-0 untuk keunggulan Persebaya. Kepemimpinan wasit Najamudin patut dipertanyakan. Sebab dirinya sering mengeluarkan keputusan yang kontroversial. Tak hanya Persijap saja yang dirugikan, Tuan rumah juga kerap kecewa dengan keputusan wasit asal Balikpapan ini.

Kemenangan di depan mata akhirnya sirna setelah Persijap berhasil menyamakan kedudukan melalui sepakan Eki Nurhakim dua menit jelang pertandingan usai. Hingga pertandingan usai skor imbang 1-1 tetap bertahan.

Categories: news Tag:, ,

Dari Suporter Untuk Suporter “refleksi menuju suporter beradab”

Supporter – Sportivitas kini telah hilang berganti dengan teror, intrik dan segala macam taktik curang lainnya. anarkisme dan kekerasan suporter seakan tidak bisa di cegah, perilaku yang berdasarakan mencari eksistensi sebuah kelompok agar diakui. dan bisa jadi dengan kerusuhan ini eksistensi mereka di sepakbola bisa terlihat. Tapi kekerasan bukan satunya jalan meneguhkan eksistensi, masih banyak jalan lain yang lebih positif dan jalan itulah yang akan kami pilih.

1995 Suporter Persebaya Suhermansyah meninggal karena terimpit suporter lain di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta .

1996 Sembilan suporter PSIS tewas tertabrak KRL di Lenteng Agung. Tiga bonek tewas saat menuju Jakarta .

2002 Dalam partai Persija vs Semen Padang di babak 10 besar, remaja asal Padang, Beri Mardias, tewas dikeroyok sekelompok orang berkostum oranye. Suporter The Jakmania, Subari, meninggal karena jatuh dari bus seusai menonton Piala Tiger Indonesia vs Filipina.

2003 Rahmat Hidayat tewas terlindas truk sebelum partai Persela vs Persebaya. Dimas Aditya meninggal sebelum final Piala Emas Bang Yos antara Persija vs Persebaya.

2004 Aremania, Mat Togel, meninggal akibat kecelakaan sebelum partai Persekabpas vs Arema. Fajar Widya Nugraha meninggal akibat terimpit penonton di Stadion Kanjuruan, Malang .

2005 Satu orang suporter Persija tewas seusai pertandingan final Liga Djarum antara Persija vs Persipura.

2006 Mince, pendukung Mutiara Hitam, tewas menjelang pertandingan Persipura melawan Persiwa) akibat terinjak suporter lain.

2008 The Jakmania, Fathul Mulyadin, tewas dikeroyok sekelompok suporter Persipura seusai semifinal pertama Liga Djarum antara Persipura vs PSMS.

2010 beberapa bonek terjatuh dari kereta etika tour ke bandung

2010 Suporter kediri terinjak2 ketika duel persik VS persik

diatas adalah daftar teman teman kita yang meninggal atas nama sepakbola. suporter Indonesia sekarang sudah menjadi momok yang menakutkan buat masyarakat indonesia . bahkan pertandingan sepakbola banyak sekali di tunda atau tanpa penonton karena “paranoid” terhadap pemain ke 12 ini.
stigma negatif akhir – akhir ini semakin menjadi – jadi, setelah “penyerangan” solo terhadap surabaya , semarang mencegat jepara dan beberapa kasus keributan suporter lainnya.

BUDAYA TANDING
mencounter sebuah budaya kerusuhan yang makin menggurita harus dengan menciptaan budaya baru, gerakan suporter kreatif yang dulu di dengungkan arema mulai bias, banyak suporter yang bangga dengan nyanyian menghujat suporter lain.
terbetik ide untuk menandingi budaya anarkisme suporter dengan mencipakan budaya suporter beradab, suporter yang bisa menghargai makna dan sebuah kompetisi. Bukan lagi meraka yang menjadikan hasil sebagai tujuan semata tanpa mau melihat prosesnya. Etika fair play telah memudar dan hilang. Inilah efek dimana sang pemenang akan dipuja sedang mereka yang kalah (walau telah berusaha) selalu dianggap sebagai pecundang.menang apa kalah,
maka itu kami berpikir untuk merubah itu semua. berpikir tentang bagaimana menjadi suporter yang dewasa, dan BUKU kami pilih dan anggap menjadi media yang mumpuni untuk menyebarkan virus positif ini, untuk merubah stigma negatif terhadap suporter. Karena kita bosan dengan tuduhan suporter bola adalah kaum tak bermoral dan beradab. Maka kita tunjukkan bahwa kita masih punya niatan yang baik untuk mengubahnya.

Untuk sementara buku ini berjudul Dari Suporter Untuk Suporter “refleksi menuju suporter beradab” buat rekan rekan yang ingin bergabung dengan gerakan ini bisa kirim naskahnya via email ke: buku@suporter.info
Deadline 15 Maret 2010

Kemungkinan dalam buku ini akan menampilkan tulisan tulisan para tokoh sebagai GUESS WRITTER
Bambang pamungkas dan ponaryo astaman insya Allah sudah bersedia untuk menulis di buku ini. andi bachtiar yusuf, pandji pragiwaksono, bambang haryanto, sigit nugroho, (tahap konfirmasi)

terima kasih rekan rekan suporter semua.
jadikan suporter indonesia sebagai suporter loyal yang beradab

<admin@suporter.info>

Categories: Jurnal Tag:,

Jelang Persebaya Vs Persijap : Panpel Sweeping Calo

Supporter – Saat Persebaya Surabaya menjamu Persijap Jepara di Liga Super Indonesia (LSI) di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari, Panpel akan melakukan sweeping pada calo tiket yang selama ini dinilai sangat meresahkan.

HELY SUYANTO Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Pertandingan Persebaya, mengatakan, sweeping pada calo tiket ini dilakukan sesudah Panpel mendapat kritikan dari masyarakat. Karena keberadaan calo tiket di Tambaksari sangat merugikan dan menganggu.

HELY menegaskan untuk menghindari calo sekaligus demi ketertiban,  Panpel juga melakukan cara baru penjualan tiket.

Diantaranya Panpel nantinya akan membedakan warna tiket yang akan dijual untuk umum dan elemen supporter. Ini dilakukan supaya lebih memberi pelajaran pada supporter untuk lebih tertib dan disiplin saat mengantre beli tiket.

HELLY berharap dengan cara yang dilakukan Penpel ini nantinya akan memberi perubahan positif untuk setiap pertandingan Persebaya Surabaya di Tambaksari.

Persebaya Surabaya besok akan menjamu tim tamunya Persijap Jepara di Stadion Tambaksari. Partai besok menjadi pertandingan kandang ketiga Persebaya menghadapi putaran kedua di LSI.

Menjamu Persijap, Panpel Persebaya akan menyediakan 29.000 tiket. Sementara untuk keamanan akan melibatkan sekitar 1.200 personel kepolisian dan pendamping.

(bud/ipg)

Categories: news Tag:, ,

Sebagai Bentuk Protes ke PSSI, Bonekmania kenakan Kostum Hitam

Supporter – Sebagai bentuk protes atas sanksi yang diberikan Komdis PSSI, Panpel Persebaya imbau supporter yang datang ke Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari Surabaya memakai pakaian hitam atau warna gelap.

Sore ini Persebaya menjadi tuan rumah menjamu Persijap Jepara.

HELLY SUYANTO Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persebaya Surabaya , Selasa (23/02) mengatakan, pemakaian atribut warna hitam atau gelap ini sebagai bentuk reaksi atau protes atas sanksi yang diberikan PSSI pada Persebaya. Karena selama ini sanksi yang diberikan pada Persebaya dinilai sangat berat dan tidak berdasar.

HELY mengatakan, imbauan yang disampaikan Panpel memang dinilai tidak efektif. Tapi dia berharap supporter bisa menaati saran Penpel karena kalau melanggar Persebaya bisa kena tambahan sanksi.

Kata HELY, upaya yang dilakukan Panpel ini memang tidak mudah. Karena komponen supporter Persebaya tidak hanya datang dari Surabaya, tapi juga dari berbagai daerah. Cara ini kemungkinan akan menyulitkan. Tapi Panpel juga sudah menyiapkan upaya lain, misalnya dengan menyediakan rompi plastik warna hitam.

Sebelumnya akibat ulah beberapa oknum supporter, Persebaya Surabaya terkena beberapa sanksi dari Komdis PSSI diantaranya denda Rp250 juta.

Selain itu Persebaya dilarang didampingi supporter saat partai tandang selama 2 tahun, dan di pertandingan kandang supporter Persebaya juga tidak diperbolehkan memakai atribut Persebaya.

(bud/ipg)

Categories: Bonekmania Tag:,

Yakin Supporter Indonesia bisa Damai?

Supporter – Ketika pertama kali PSSI didirikan tahun 1930, Suratin berharap sepakbola bisa menjadi alat pemersatu rakyat melawan penjajah negara ini. Harapan Suratin itu dapat terwujud dengan mulai adanya perlawanan dari beberapa daerah, sehingga klub sepakbola yang didirikan Belanda mulai tersingkirkan.

Hal itu bisa terwujud berkat adanya kebersamaan diantara elemen sepakbola yang melibatkan klub, pemain, serta pendukungnya. Perjuangan melalui sepakbola tidak terlalu besar perannya dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Namun setidaknya itu memberikan dampak cukup signifikan.

Suratin memunculkan harapan itu tentunya tidak hanya di masa penjajahan saja, tapi juga ketika Indonesia telah merdeka. Tapi belakangan justru yang terdengar adalah kerusuhan antar supporter. Bahkan, tak jarang kerusuhan itu menyebabkan supporter tewas.

Bentrokan antar supporter ini selalu menghiasi wajah persepakbolaan nasional. Imbas dari sikap supporter yang beringas kerap merugikan klub. Ketukan palu komisi disiplin [Komdis] PSSI telah menghukum sejumlah klub akibat ulah supporter mereka yang beringas

Ironisnya, bentrokan antar supporter ini tidak hanya terjadi ketika tim kesayangan mereka bertanding. Justru bentrokan ini beberapa kali terjadi saat dua supporter yang bertikai saling berpapasan di tengah jalan. Akibat kondisi ini, tidak jarang polisi tak mengeluarkan larangan izin menggelar pertandingan.

Selain terkena imbas atas keputusan Komdis dan pihak keamanan, klub juga menerima kerugian lainnya. Mereka tidak bisa mendapat dukungan dari supporter nya, karena dilarang mengunjungi kota tertentu agar tidak terjadi kerusuhan antarpendukung yang sering merugikan banyak orang.

“Sepakbola itu menjunjung tinggi fair play. Kehadiran pendukung di bangku penonton bukanlah untuk mencaci maki lawan atau supporter dari klub lain, tapi untuk menyemangati timnya yang sedang bertanding,” demikian pernyataan ketua Komdis PSSI Hinca Panjaitan.

Persaingan antarklub memang menjadi warna tersendiri di setiap perhelatan sepakbola di seluruh permukaan bumi ini. Namun persaingan itu bisa dilakukan dengan cara sportif. Wajar bila supporter mengeluarkan ejekan terhadap fans dari klub lain. Hanya saja, ejekan itu tidak perlu dikembangkan menjadi adu fisik.

Supporter cukup membalas ejekan dengan cara yang lebih elegan, serta masih dalam batas kewajaran sesuai dengan norma budaya di negara ini. Dengan demikian, di sini dituntut kreativitas supporter dan kedewasaan berpikir dalam membuat yel-yel, maupun mendukung tim kesayangannya. Biar bagaimana pun, persaingan tetap harus terjaga, karena itu memberikan warna tersendiri.

Tentunya kita semua yang mencintai sepakbola memimpikan suatu saat nanti bisa menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion bersama supporter lawan yang berada di sebelah kita. Tidak perlu ada lagi penyekatan yang dilakukan petugas keamanan untuk mengelompokkan supporter agar tidak terjadi bentrokan. Semua membaur menjadi satu di dalam stadion.

Tapi semua itu bisa terwujud bila supporter sudah mampu bersikap, dan berpikir dewasa. Jadikan sepakbola sebagai sarana hiburan di tengah kondisi negara yang carut-marut, bukan ajang adu fisik!

[Dony Afroni]

Categories: Headline, Jurnal Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.