Gol Telat Rene Gagalkan Kemenangan Sriwijaya

Posted 12/13/2009 by arema-malang
Categories: arema

Sundulan Christian ‘Rene’ Martinez menjelang pertandingan berakhir menggagalkan Sriwijaya FC memetik poin penuh kala ditahan imbang Persib Bandung 1-1 di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (12/12). Hasil seri itu menjadi poin pertama Persib di partai tandang Indonesia Super League musim ini. Read the rest of this post »

Arema Kokohkan Posisi Puncak

Posted 12/13/2009 by arema-malang
Categories: arema

Tambahan tiga angka diperoleh Arema Malang setelah membungkam Persipura Jayapura 2-1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jatim, Rabu (9/12) petang. Kemenangan itu kian mengokohkan Arema di puncak klasemen Indonesia Super League (ISL) 2009-10. Read the rest of this post »

Arema kandaskan Pelita Jaya di Karawang

Posted 12/03/2009 by arema-malang
Categories: aremania

Tags: ,

Supporter – Kesebelasan Arema Malang mengalahkan tim tuan rumah Pelita Jaya dengan skor 2-0 dalam lanjutan kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010 di Stadion Singaperbangsa Karawang, Jawa Barat, Rabu sore.

Dua gol yang diperoleh Arema Malang dicetak oleh Rohman Chemelio pada babak pertama menit ke-3 dan pada babak kedua menit ke-83 melalui kaki Rahmat Afandi.

Pada menit ke-3 babak pertama itu, Rohman Chemelio berhasil memanfaatkan umpan pemain tengah Arema Malang, Ridhuan, dari sisi kiri gawang Pelita Jaya. Umpan dari Ridhuan itu diberikan saat para pemain Arema Malang melakukan serangan balik.

Saat Rohman menendangkan bola menuju gawang Pelita Jaya, penjaga gawang Pelita Jaya, I Made Kadek Wardana tidak berhasil menahan tendangan tersebut sehingga terjadilah gol pertama.

Gol kedua terjadi ketika Rahmat Afandi yang kebetulan bebas dari kawalan pemain belakang Pelita Jaya mendapat umpan panjang dari kawannya. Sehingga, pemain dengan nomor punggung 14 itu leluasa mencetak gol ke gawang Pelita Jaya.

Pada babak pertama, para pemain Arema Malang terus menahan serangan para pemain Pelita Jaya yang mendapat dukungan penuh dari suporternya. Sambil menahan serangan, para pemain Arema Malang memanfaatkan serangan balik.

Sedangkan para pemain Pelita Jaya lebih banyak menyerang dalam pertandingan tersebut. Sehingga hanya mampu menghasilkan sejumlah peluang untuk mencetak gol, karena kuatnya pertahanan pemain belakang Arema Malang.

Pemain depan Pelita Jaya, Wirahadi beberapa kali mendapat peluang untuk menjebol gawang Pelita Jaya. Bahkan, pada pertengahan babak kedua, pemain bernomor punggung 7 itu sempat lolos dari kawalan pemain belakang Arema hingga sampai ke kotak penalti.

Namun, Wirahadi belum berhasil mencetak gol karena tendangannya berhasil ditepis penjaga gawang Arema Malang, Kurnia Melga.

Hingga dua menit menjelang berakhirnya babak kedua, Wirahadi juga masih mendapat peluang untuk mencetak gol, saat berada di sekitar kotak penalti mendapat umpan dari seorang pemain tengah Pelita Jaya. Tapi, tendangan Wirahadi melambung ke atas mistar gawang Arema Malang.

Sampai wasit Armando meniup pluit panjang pertanda berakhirnya pertandingan, Pelita Jaya tidak berhasil mencetak gol, dan Arema tetap menang dengan skor 2-0.

Lagi lagi Wasit yang di salahkan

Posted 12/01/2009 by arema-malang
Categories: Papua Mania, Viking

Tags: ,

persibSupporter – Pelatih Persib Bandung, Jaya Hartono kecewa terhadap kepemimpinan wasit pada pertandingan Persib lawan Persipura Jayapura yang berakhir 0-1 di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Minggu malam.

“Wasit tidak melindungi pemain, padahal sempat terjadi beberapa pemukulan terhadap pemain kami. Bahkan yang lebih mengherankan ketika Hilton dilanggar, setelah saya tanya, ia mengatakan bahwa kejadiannya ada di dalam kotak penalti, namun wasit ternyata mengatakan lain,” kata Jaya dalam jumpa pers seusai laga.

Mengenai penampilan anak asuhnya dalam laga tersebut, Jaya mengatakan bahwa semuanya sudah baik dan sesuai dengan harapan, kekalahan ini hanya karena adanya pengaruh non teknis seperti kepemimpinan wasit yang dianggap kurang adil.

Menurut Jaya, kesempatan membawa poin pada laga kali ini, sangat terbuka lebar, hal itu terbukti dengan lahirnya sejumlah peluang matang dari sejumlah pemain, makanya ia mengaku bangga meskipun tidak membawa poin.

Mengenai gol yang diciptakan Alberto Goncalves pada menit ke-47, ia menganggap bahwa hal itu terjadi karena para pemain belakang terlambat melakukan bloking, namun secara keseluruhan, permainan sudah baik.

“Permainan anak-anak, khususnya pada babak kedua sangat baik, kita bahkan beberapa kali mendapatkan peluang, meski pada akhirnya tidak dapat menyamakan kedudukan, ini merupakan laga yang ketat,” katanya.

Sementara pelatih persipura Jacksen F Tiago mengaku bahwa tuduhan atas ketidak-adilan wasit apalagi bagi tim yang kalah merupakan hal yang biasa.

“Hal itu sudah biasa, namun kami sebenarnya sangat menyayangkan mengapa kemenangan kami dianggap karena adanya faktor lain, seperti tidak menghargai kemampuan kami,” katanya.

[antara]

Sriwijaya Kalah, Hanya karena faktor Cuaca?

Posted 12/01/2009 by arema-malang
Categories: Singa Mania

Tags:

sriwijayaSupporter – Kondisi cuaca yang buruk dan kurang mendukung penampilan pemain Sriwijaya FC (SFC), menjadi “kambing hitam” faktor penyebab kekalahan 3-0 atas Persiwa Wamena, pada laga putaran pertama Liga Super Indonesia 2009-2010, di Stadion Pendidikan Wamena, Papua, Minggu (29/11) sore.

“Kami bermain dengan suhu 10 derajat Celcius dan guyuran hujan, sehingga anak-anak tidak mampu mengembangkan permainan,” kata pelatih SFC, Rahmad Darmawan, seusai pertandingan.

Dia mengatakan, “Laskar Wong Kito” mengalami penurunan performa karena tidak dapat beradaptasi dengan suhu udara dingin. “Pemain terkejut dengan suhu yang demikian dinginnya, karena biasa bermain dalam suhu khas daerah tropis. Terlebih kondisi lapangan juga jelek karena hujan, sedangkan pemain biasa main di lapangan bagus,” ujar dia.

Namun, meski menyadari kendala yang dihadapi pemainnya tersebut, Rahmad tetap tidak dapat menutupi kekecewaan karena mengakui tim lawan bermain lebih baik dalam melancarkan strategi. “Lawan bermain lebih agresif dan banyak menguasai bola dibandingkan kami yang cederung bermain dalam tempo lamban. Akibatnya, lini pertahanan begitu mudah ditembus pemain depan lawan,” ujar mantan pelatih Persija dan Persipura ini.

Selain kendala cuaca, pelatih yang akrab disapa RD ini mengatakan bahwa permainan itu juga berlangsung keras. Akibatnya, beberapa kali terjadi pelanggaran terhadap pemain andalannya seperti Anoure Obiora Richard Keith, Kayamba Gumbs dan Ponaryo Astaman.

“Persiwa bermain lebih agresif dalam melakukan tekanan. Akibatnya, beberapa pemain mereka melakukan pelanggaran keras terhadap beberapa pemain kami,” tandas RD

[antara]

Minim Dana, Maksimalkan Pemain Muda

Posted 12/01/2009 by arema-malang
Categories: The Macz Man

Tags:

psm-makassarSupporter – Mengarungi kompetisi Liga Super Indonesia 2009/2010, PSM Makassar mengaku bakal mengoptimalkan pemain lokal, yang sebagian besar pemain muda. “Sekitar 70% tim kami adalah pemain muda. Hanya ada dua pemain senior yakni Syamsul Haeruddin dan Samsidar,” kata Manajer merangkap Pelatih PSM Makassar, Hanafing.

“Target kami hanya pembinaan dengan memaksimalkan pemain muda agar memiliki pengalaman bertanding. Jika mereka terus dibina dari sekarang, tidak menutup kemungkinan dua atau tiga tahu mendatang mereka bisa menjadi pemain yang berkualitas,” ujar Hanafing.

PSM makassar yang juga sempat dilanda krisis keuangan, pada musim ISL 2009/2010 hanya mendapatkan bantuan dari Pemkot Makassar sebesar Rp500 juta.

Minimnya dana PSM itu juga menjadi salah satu faktor kesebelasan berjuluk `Juku Eja` itu tidak menargetkan juara pada ISL kali ini. “Kami tidak memiliki dana dan donatur seperti Persisam. Harga satu orang pemain Persisam saja sudah bisa membayar gaji 20 pemain PSM Makassar,” kata Hanafing.

Ia juga memuji kemegahan stadion Palaran Samarinda. “Jika kami memiliki stadion seperti ini, maka kami tidak saja menargetkan jadi juara ISL, tetapi harus juara Asia,” tuturnya.

Terkait kekalahan timnya dari Persisam Putra Samarinda, Hanafing mengungkapkan, anak asuhnya sudah berusaha menahan gempuran tim tuan rumah tersebut, namun upaya tersebut gagal. “Tim kami sudah berusaha maksimal melayani permainan cepat tuan rumah, namun gol itu tidak kami duga. Itu merupakan `lucky goal` (gol keberuntungan),” kata Hanafing.

Hasil pertandingan melawan Persisam tersebut akan menjadi evaluasi dalam menghadapi Bontang FC pada laga tandang di Kaliimantan Timur.”Hasil ini akan kami evaluasi untuk membenahi tim saat menghadapi Bontang FC,” kata Hanafing

[antara]

Mari Menulis Tentang Sepak Bola

Posted 11/28/2009 by arema-malang
Categories: Editorial

Tags: ,

Supporter – Saya sangat hobi bermain bola, juga pernah menjadi pemain bola. Saya bahkan pernah mengambil studi yang khusus berkaitan dengan sepakbola. Lalu saya sangat menyukai aktivitas tulis menulis, bahkan kini saya hidup dari menulis.

Apa jadinya jika dua kesukaan saya itu digabungkan menjadi satu?

Menulis [tentang] sepakbola sebenarnya tak terlalu sering saya lakukan. Hanya di momen-momen tertentu, saat ada situasi khusus, juga saat saya didatangi oleh ide yang juga bagus. Sebagian diminta oleh editor-editor yang saya kenal, selebihnya datang dari inisiatif sendiri. Itu sebabnya sebagian terbesar catatan-catatan itu terpublikasikan di media massa, sisanya tersimpan rapi di folder pribadi.

Karena saya bukan wartawan, tentu saya tak menulis laporan pandangan mata. Amat jarang saya menulis review atau preview yang sifatnya melulu teknis. Saya, biasanya, mencoba menemukan hal-hal lain yang menarik dari sepakbola, sesuatu yang kadang tak ditemukan dari lapangan hijau, kadang tidak juga saya dapatkan dari 90 menit waktu pertandingan.

Itu bisa soal politik sepakbola, pusaran modal di dunia sepakbola, perihal bagaimana sepakbola menjadi sesuatu yang teramat vital bagi satu komunitas atau bangsa, atau bahkan melihat dan memperlakukan sepakbola sebagai alegori dari kehidupan yang sehari-hari kita jalani.

Saya, yang menghabiskan masa kecil dan remaja saya di lapangan bola, punya ikatan batin yang kuat dengan olahraga ini. Ada banyak lapisan-lapisan ingatan saya yang diisi oleh sesuatu yang ada kaitannya dengan sepakbola.

Ia bisa berupa tivi hitam putih yang mengenalkan saya pada van Basten di Piala Eropa 1988, ia bisa berupa balsam yang sengaja saya pulaskan tipis dekat mata saya agar bisa melawan kantuk demi menonton Arena dan Juara yang menayangkan cuplikan pertandingan, ia bisa berupa halaman olahraga dri koran yang dibeli ayah, ia bisa sepercik darah yang menetes saat selangkangan saya yang belum kering usai disunat terkena hantaman bola plastik karena saya tak sabar untuk segera bergabung dengan teman-teman lain, ia bisa sejumlah poster yang saya gunting dari cover sebuah tabloid olahraga, ia bisa sehelai kostum nomer 10 yang dimiliki Ribut Waidi, ia bisa sepatu bola merk super-cup yang dibelikan ayah saat saya naik kelas lima, ia bisa selembar uang 10 ribu yang saya terima pertama kali sebagai honor bermain bola saa duduk di kelas 2 SMP, ia bisa ban kapten yang melekat di lengan kiri saya saat memperkuat kabupaten kelahiran di Piala Haornas, ia bisa seulas senyuman pacar kecil di kala SMA yang berdiri di sudut lapangan saat saya mencetak gol dalam pertandingan antar kelas usai ujian catur wulan, ia bisa sehelai karcis pertandingan primavera di Senayan saat saya masih duduk di awal-awal SMP, ia bisa sehelai kertas tanda bisa masuk perguruan tinggi negeri di Jogja yang saya terima tanpa tes.

Dan lain-lain. Et cetera. Dan sebagainya.

Lalu saya merasa tak lagi mampu bermain bola, tak cukup memadai untuk mendaki karir di dunia sepakbola: itulah saat di mana buku-buku mengambil alih kesibukan saya, jauh… ya… jauh sebelum saya kuliah.

Ada periode di mana buku dan bola bisa berdampingan dengan mesra, hingga akhirnya saya mesti memilih salah satu. Lalu saya memilih buku-buku, membacanya, dan… berwaktu-waktu kemudian: mulai belajar menulis, sampai akhirnya saya hidup dari kegiatan yang terakhir ini.

Sepakbola, tentu saja, tak pernah saya tinggalkan. Bedanya, jika dulu bola disentuh oleh kaki saya [terutama oleh kaki kiri], belakangan bola hanya disentuh oleh mata saya. Ya, inilah masa di mana saya hanya menikmati bola dalam posisi sebagai penonton. Saya masih rela begadang untuk menunggu satu pertandingan dari tim kesayangan, atau sekadar untuk memastikan apakah saya menang dalam satu pertaruhan kecil-kecilan atau tidak.

Ini menyenangkan, tentu saja.

Secara memadai saya cukup tahu teknik-teknik dasar bermain bola, bagaimana mengontrol bola yang datang dengan deras, bagaimana mengendalikan bola yang datang dari ketinggian, bagaimana mengontrol bola dengan dada saat bola datang vertikal dan keras atau saat bola datang dari lengkungan ketinggian, bagaimana posisi dua kaki saat menghadapi pemain sayap yang menggiring bola dari garis tepi lapangan, juga tahu seperti apa rasanya berhadapan dengan teror penonton, bagaimana gemetarnya menghadapi pertandingan vital, juga sedikit banyak paham bagaimana caranya wasit bisa memihak lawan tanpa terlalu kentara sikapnya. Itu semua memudahkan saya saat menulis, karena –sedikit banyak– saya juga tahu bagaimana caranya menulis, tahu cara mengutip, paham di mana harus mencari bahan, karena bahan-bahan yang terpenting itu kebanyakan sudah tersimpan di lapisan-lapisan ingatan saya sendiri.

Demikianlah, salah satu kisi-kisi dalam hidup saya. Kisi-kisi yang saya ringkas di atas, tampaknya sudah cukup menggambarkan bagaimana dan kenapa saya bisa menikmati menulis [perihal] sepakbola. Menulis [perihal] sepakbola bukan hanya membuat dua hobi saya bisa saling bertemu, tapi juga membuat masa silam [hari-hari dengan bola] dan masa kini [hari-hari dengan aktivitas menulis] saya bertemu dan saling bertegur sapa dengan mesra.

*Artikel Ini Juga Di Muat di BolaRia.com

[Melkisedek Bola]

Sutikno di Skorsing 3 Pertandingan

Posted 11/28/2009 by arema-malang
Categories: NJ Mania, news

Tags:

sutikno_persitaraSupporter – Bek sayap Persitara Sutikno harus membayar mahal tindakannya saat mencederai pemain Persebaya Anang Ma’ruf beberapa waktu lalu. Pelanggaran keras yang membuat tangan kiri Anang Ma’ruf patah itu, dinilai Komisi Disiplin (Komdis) PSSI sebagai tindakan yang sangat brutal sehingga pantas mendapat hukuman berat.

“Sutikno dikenai sanksi oleh Komdis berupa tidak boleh memperkuat Persitara di pertandingan berikutnya sebanyak tiga pertandingan, saat Persitara melawan Persiba Balikpapan, PSM Makassar dan Bontang FC,” ujar Ketua Komdis PSSI Hinca Panjaitan usai sidang di Sekretariat PSSI, Kamis (26/11).

Selain skorsing tiga pertandingan, lanjut Hinca, Sutikno juga didenda sebesar Rp25 juta. Tetapi denda itu tidak diberikan kepada PSSI tetapi harus diberikan kepada Anang Maruf.

“Denda itu harus diberikan kepada Anang Maruf sebagai ganti uang pengobatan. Ini pelajaran bagi pemain lain agar bermain lebih sportif dan fair,” kata Hinca.

Selain itu, Komdis juga mengancam panitia pelaksana (panpel) pertandingan PSM Makassar, setelah menerima laporan adanya pemukulan terhadap wasit Djadjat Sudrajat usai memimpin pertandingan PSM melawan Persija Jakarta di Stadion Andi Matalatta Makassar, Rabu (25/11). Menurut Hinca Pandjaitan, pihaknya akan memanggil Panpel PSM, Jumat pekan depan.

Menurutnya, panpel PSM seharusnya melindungi perangkat pertandingan, dari sejak datang hingga meninggalkan kota Makassar. Selain itu, panpel PSM sedang menjalani sanksi dari Komdis, yakni berupa pertandingan tanpa penonton saat menjamu Persija.

Karena itulah, Hinca mengatakan pihaknya akan mengenakan pasal berlapis kepada panpel PSM. Masalahnya, panpel PSM itu sedang menjalani sanksi dari Komdis yakni pertandingan tanpa penonton saat menjamu Persija, tetapi saat menjalani sanksi Komdis, panpel PSM malah memukuli wasit Djadjat di kamar ganti.

“Kami melihat, panpel PSM sepertinya menganggap remeh sanksi tanpa penonton itu. Dengan adanya pemukulan, jelas kami akan memberikan sanksi berat, minimal partai usiran dan oknum panpel tersebut tidak boleh lagi bertugas di panpel PSM,” paparnya.

[Ligina]

PSM Kerja Sama Dengan Produsen Lampu, Visicom

Posted 11/28/2009 by arema-malang
Categories: The Macz Man

Tags:

psm-makassarSupporter – PSM dan Visicom menjalin kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan MoU di sebuah kafe di Makassar, Kamis, (26/11)

Penandatanganan yang dilakukan oleh Manajer sekaligus pelatih PSM Hanafing bersama Marketing Visicom Shelly ini akan berlangsung selama satu tahun ke depan.

“Kita tentu sangat senang dengan niat baik Visicom yang akhirnya memutuskan untuk menjalin kerja sama, apalagi saat ini PSM sedang mengalami sedikit masalah keuangan, saya yakin bahwa kerja sama yang terjadi bisa membantu meringankan sedikit beban PSM,” kata Asisten Bidang Komersil dan Sponsorship PSM Mario David.

Mengenai mekanisme kerja sama sendiri, Sherly mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan keuntungan sebesar Rp 20 ribu kepada PSM, dalam setiap pembelian lampu Visicom yang telah dikemas khusus bersama sebuah bola yang telah ditandatangani para pemain PSM seperti Samsidar dan Aditya P Dewa.

Untuk saat ini, pihak Visicom telah menyiapkan sekitar 10 ribu bingkisan untuk dipasarkan kepada seluruh suporter dan masyarakat Sulsel, umumnya yang memang merupakan penggemar berat tim Juku Eja, jumlah ini sendiri masih akan ditambah jika pada penjualan nanti ternyata berjalan sukses.

“Untuk target sendiri, kami memperkirakan bisa terjual hingga 5 ribu buah selama satu musim, mudah-mudahan hal itu terwujud sehingga dana yang masuk ke PSM akan lebih banyak lagi,”kata Sherly seraya menjelaskan bahwa pihaknya membagi dua pilihan harga yakni 125 ribu untuk lampu 25 watt dan 150 ribu untuk 36 watt.

Sementara untuk masalah distribusi penjualan, pihak PSM akan memasarkan di beberapa tempat yang dianggap strategis, termasuk ketika PSM bermain kandang di Stadion Andi Mattalatta.

“Selain akan dipasarkan di sejumlah titik, kita juga akan menyiapkan tempat khusus di VIP Utama sebagai tempat penjualan, para penjual juga akan menerima keuntungan sebesar lima ribu dalam setiap pembelian,”kata Mario.

[antara]

Kemenangan Tanpa Baroni-Daryoush

Posted 11/27/2009 by arema-malang
Categories: The Macz Man, news

Tags:

pemain psmSupporter – PSM Makassar sukses mendulang poin penuh saat menjamu tim elite Persija Jakarta di Stadion Mattoanging Andi Mattalatta, Rabu (25/11) sore. Kemenangan 2-1 atas tim Macan Kemayoran ini pun disambut suka cita oleh sang arsitek, Hanafing, dan ofisial tim lainnya.
Pasalnya, PSM bertanding tanpa dukungan suporter fanatik, tanpa didampingi manajer, dan tanpa dua pemain asing, Daniel Baroni dan Daryoush Ayyoubi.
Komdis PSSI menghukum PSM tidak boleh ditonton suporter saat melawan Persija sebagai hukuman, karena oknum suporter melempari bench pemain PSPS dan PSM saat bertanding di Stadion Mattoanging 3 November lalu.
Tanpa manajer, karena Kadir Halid yang sejak bulan Juli lalu dipercaya memegang jabatan ini, mengundurkan diri dua hari menjelang pertandingan. Pengganti Kadir, Hendra   Sirajuddin, juga belum hadir karena sedang menunaikan ibadah haji.
Sedangkan Baroni dan Daryoush tidak dimainkan dalam  laga ini, karena menurut pelatih, kedua pemain asing ini belum dapat beradaptasi dengan tim.
Keputusan Hanafing tidak memainkan Baroni dan Daryoush yang dikontrak masing-masing Rp 800 juta semusim, karena menilai kehadiran kedua pemain itu malah merusak permainan tim dan menghilangkan karakter tim.
Pertimbangan Hanafing terbukti ampuh, karena PSM tanpa pemain asal Iran dan Brasil itu mampu menang. Padahal, Persija tampil dengan skuad terbaiknya, kecuali Abanda-Abanda Herman yang akumulasi kartu kuning.
Dalam jumpa pers seusai pertandingan, Hanafing mengatakan, PSM menang karena tampil dengan ciri khasnya: fighting spirit!
“Inilah karakter PSM yang sesungguhnya,” katanya.
Sejak resmi memperkuat PSM di kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) musim ini, keduanya  tidak mampu mempersembahkan kemenangan. Masing-masing menang melawan Persipura di Stadion Mattoanging (1-1), melawan Persiwa  di Wamena (0-3), dan menjamu PSPS Pekanbaru di Mattoanging (1-2).
PSM yang hanya tampil dengan dua pemain asing, Hendry Nyobi Koti dan Christian Carrasco, tampil apik dan menekan.

[Tribun Timur]